Jumat, 15 Agustus 2025

Presiden Tekankan Diplomasi Pertahanan Proaktif di Indo-Pasifik

Infografis Pidato Presiden untuk Diplomasi Pertahanan 

Pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI, Kamis (15/8), membawa pesan tegas bagi arah pertahanan Indonesia di panggung global, khususnya di kawasan Indo-Pasifik yang semakin strategis.

Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa kekuatan pertahanan Indonesia tidak hanya diukur dari kemampuan militer, tetapi juga dari kemampuan diplomasi yang mampu mengamankan kepentingan nasional dan memperkuat posisi tawar negara. Bergabungnya Indonesia dengan BRICS, penyelesaian perundingan dagang strategis, dan keterlibatan aktif dalam isu Palestina adalah bukti bahwa diplomasi menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pertahanan.

Bagi Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Ditjen Strahan) Kemhan, pesan ini adalah mandat langsung untuk memformulasikan strategi diplomasi pertahanan yang proaktif, adaptif, dan relevan dengan dinamika kawasan. “Indo-Pasifik adalah arena geopolitik utama abad ke-21. Kita harus hadir di meja perundingan dan lapangan kerja sama,” ujar seorang pejabat senior Kemhan.

Empat Fokus Diplomasi Pertahanan di Indo-Pasifik

  1. Penguatan Kemitraan Strategis
    Membangun aliansi dan kerja sama pertahanan dengan negara-negara kunci di kawasan, termasuk Australia, India, Jepang, dan negara ASEAN lainnya.

  2. Kerja Sama Keamanan Maritim
    Menjaga jalur perdagangan strategis seperti Selat Malaka, Laut Natuna Utara, dan perairan Papua dari ancaman keamanan tradisional maupun non-tradisional.

  3. Transfer Teknologi dan Latihan Bersama
    Memastikan kerja sama pertahanan menghasilkan alih teknologi, peningkatan kapasitas SDM, dan latihan militer bersama yang meningkatkan interoperabilitas.

  4. Peran Aktif dalam Forum Regional
    Mengambil peran kepemimpinan di forum seperti ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM-Plus), Shangri-La Dialogue, dan Pacific Islands Forum untuk mempengaruhi kebijakan keamanan regional.

Presiden menutup arahannya dengan pesan bahwa diplomasi pertahanan harus menjadi garda terdepan dalam memastikan Indonesia disegani dan tidak diabaikan di kawasan Indo-Pasifik. “Kita hadir untuk memperjuangkan kepentingan nasional, menjaga kedaulatan, dan membawa manfaat bagi rakyat,” tegasnya.


Jakarta – 16 Agustus 2025

Sabtu, 26 Oktober 2024

Indonesian Government's Efforts to Free the New Zealand Pilot

New Zealand pilot Phillip Mehrtens. Photo by cnnindonesia
The Indonesian government faced serious challenges following the kidnapping of New Zealand pilot Phillip Mehrtens by armed groups (
separatist group) in Papua in early 2023. To resolve this crisis, the government prioritized a peaceful approach through communication with local leaders and diplomacy, although the situation on the ground was complex and often required military action.

Liberation Strategy
Peaceful Approach
- Engage Community Leaders: 
  • Establish dialogue with influential community leaders to foster communication and understanding with groups involved in hostage-taking. This approach aims to build trust and create pathways for negotiation, ultimately seeking a peaceful resolution.
Law Enforcement
- Selective Military Operations: 
  • Implement targeted military operations and law enforcement actions against separatist groups. These operations should be carefully planned to minimize civilian casualties and focus on dismantling the organizational structure of the separatists while maintaining public safety.
Social Approach
- Improve Community Welfare: 
  • Invest in community development programs aimed at enhancing the welfare of local populations. By addressing economic, educational, and social needs, the strategy seeks to reduce the support for separatist movements, thereby undermining their influence and recruitment capabilities.

This structured strategy combines peaceful engagement, law enforcement, and social improvement to create a comprehensive approach to addressing the challenges posed by hostage-taking and separatist groups. The government is trying to enforce the law without ignoring human rights, in the hope that the conflict in Papua can be resolved thoroughly.

Upaya Pemerintah Republik Indonesia dalam Pembebasan Pilot Selandia Baru

Menlu Era Presiden Joko Widodo. Foto by Antara 

Sejak awal tahun 2023, Pemerintah Indonesia dihadapkan dengan tantangan serius menyusul penculikan seorang pilot asal Selandia Baru, Phillip Mehrtens, oleh kelompok bersenjata di Papua. Kasus ini mendapat sorotan internasional karena keterlibatan seorang warga negara asing dan pelaku yang merupakan bagian dari kelompok separatis bersenjata di wilayah Papua. Dalam menyelesaikan krisis ini, Pemerintah Republik Indonesia (PemRI) menempuh berbagai langkah untuk memastikan pembebasan Mehrtens dengan mengedepankan jalur damai, meskipun situasi di lapangan tetap kompleks dan tidak selalu memungkinkan upaya tanpa kekerasan.

1. Upaya Damai yang dilakukan oleh Pemerintah.
Sejak awal, PemRI berusaha untuk mengutamakan pendekatan persuasif dalam menyelesaikan kasus ini. Melalui koordinasi dengan pihak-pihak lokal, terutama tokoh masyarakat dan pemimpin adat di Papua, pemerintah mencoba membangun komunikasi dengan kelompok penyandera. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pendekatan kepada pihak keluarga serta tokoh-tokoh berpengaruh di wilayah setempat, mengingat mereka memiliki pengaruh lebih besar dalam meyakinkan kelompok bersenjata yang dikenal memiliki struktur hierarki yang erat dengan budaya lokal.

Pemerintah juga menggunakan jalur diplomasi untuk memastikan bahwa kasus ini tidak mengancam hubungan diplomatik antara Indonesia dan Selandia Baru. Dalam beberapa kesempatan, pihak berwenang di Indonesia terus memberikan update kepada perwakilan Selandia Baru di Jakarta, sebagai upaya transparansi dan menjaga komunikasi yang baik dengan negara asal sandera.

Namun, di lapangan, upaya damai ini tidak selalu berjalan mulus. Situasi Papua yang memiliki berbagai tantangan geografis, sosial, dan keamanan membuat proses negosiasi sering kali mengalami hambatan. Meski pemerintah berupaya menghindari konfrontasi langsung, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa upaya persuasif kerap menemui jalan buntu, terutama karena motif politik dari kelompok separatis yang menginginkan Papua merdeka dari Indonesia. Dalam beberapa kasus, pendekatan damai yang dilakukan oleh aparat terpaksa beralih menjadi upaya operasi militer ketika kelompok penyandera menunjukkan tanda-tanda perlawanan yang mengancam nyawa sandera maupun keamanan masyarakat sekitar.


2. Unsur Pemaksaan dalam Upaya Pembebasan.
Upaya damai yang ditempuh pemerintah sebagian besar dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM). Pemerintah menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan kecuali dalam situasi darurat yang menuntut operasi penyelamatan dengan tindakan tegas. Namun, dalam beberapa laporan yang diterima dari lapangan, terdapat indikasi bahwa kelompok bersenjata di Papua sering kali menggunakan sandera sebagai alat tawar untuk mendapatkan perhatian internasional dan memancing reaksi keras dari pemerintah.

Aparat keamanan sendiri dihadapkan pada dilema antara menegakkan hukum dan menjaga HAM, terutama karena sering kali kelompok separatis yang disebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau kini dikenal dengan Kelompok Separatis Teroris Papua (KSTP), menempatkan sandera di lokasi yang sulit diakses. Meskipun demikian, pemerintah Indonesia berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari tindakan kekerasan, terutama jika ada risiko keselamatan bagi sandera maupun masyarakat sipil di sekitarnya.


Penegakan Hukum terhadap Kelompok Separatis Bersenjata di Papua.

Untuk mengatasi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh KSTP atau Organisasi Papua Merdeka (OPM), pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya penegakan hukum. Tindakan kelompok ini yang mencakup serangan terhadap aparat, pembunuhan warga sipil, dan aksi-aksi terorisme lainnya, tidak hanya membahayakan stabilitas keamanan di wilayah Papua, tetapi juga melanggar Hak Asasi Manusia. 

Berikut adalah beberapa langkah penegakan hukum yang dilakukan pemerintah:

1. Operasi Militer dan Pengamanan Wilayah.
Pemerintah telah mengerahkan operasi militer secara selektif untuk menangani kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh KSTP. Dalam beberapa tahun terakhir, operasi keamanan seperti Operasi Nemangkawi telah diluncurkan untuk menargetkan anggota kelompok bersenjata yang bertanggung jawab atas serangan-serangan di wilayah Papua. Dalam pelaksanaan operasi ini, pemerintah selalu menyatakan komitmen untuk melindungi masyarakat sipil dan berfokus pada pemberantasan kelompok yang jelas-jelas terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran hukum.


2. Penegakan Hukum melalui Pengadilan.
Pemerintah Indonesia juga telah memperlakukan tindakan yang dilakukan oleh KSTP sebagai kejahatan serius di bawah hukum pidana dan undang-undang terorisme. Dalam beberapa kasus, anggota kelompok ini yang berhasil ditangkap diadili di pengadilan Indonesia dan dijatuhi hukuman sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan. Contoh nyata adalah proses peradilan yang dilaksanakan terhadap anggota KSTP yang terlibat dalam penyerangan dan pembunuhan aparat keamanan serta warga sipil.


3. Pemberdayaan dan Pendekatan Sosial untuk Meredam Kekerasan.
Selain penegakan hukum yang bersifat represif, pemerintah juga menerapkan pendekatan sosial untuk mengurangi potensi konflik dan meminimalkan dukungan masyarakat terhadap kelompok-kelompok bersenjata. Pendekatan ini meliputi pembangunan infrastruktur, program kesejahteraan, serta pendidikan di daerah-daerah yang rentan terhadap pengaruh KSTP. Pemerintah berharap dengan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Papua, dukungan terhadap gerakan separatis akan semakin berkurang.

Melalui kombinasi langkah hukum, militer, dan pendekatan sosial, pemerintah Indonesia berupaya menegakkan hukum tanpa mengabaikan hak asasi masyarakat Papua. Penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti bersalah, tetapi di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong pendekatan damai dan pengembangan wilayah Papua sebagai bagian integral dari Indonesia.

Kesimpulan.
Kasus penyanderaan pilot Selandia Baru di Papua dan berbagai tindakan kekerasan oleh KSTP menjadi ujian berat bagi pemerintah Indonesia dalam menegakkan hukum sekaligus mempertahankan integritas wilayahnya. Upaya damai dan persuasif terus dilakukan untuk memastikan pembebasan sandera dengan aman, namun di beberapa kesempatan, langkah-langkah keamanan juga tak terhindarkan ketika keselamatan terancam. Di sisi lain, pemerintah juga memastikan bahwa penegakan hukum terhadap tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan oleh KSTP tidak hanya dilakukan secara represif tetapi juga melalui pendekatan sosial untuk mengatasi akar masalah.

Diharapkan dengan kombinasi pendekatan hukum, keamanan, dan kesejahteraan sosial, konflik di Papua dapat diselesaikan secara menyeluruh dan berkelanjutan, sehingga hak-hak warga Papua dapat terlindungi dan terjamin sesuai dengan semangat HAM.

Membangun Persatuan dan Diplomasi Pertahanan: Menghidupkan Nilai-Nilai Sumpah Pemuda melalui Program Pertukaran Pelajar OAP

Untuk menggunakan "Sumpah Pemuda" sebagai landasan dalam diplomasi pertahanan melalui program pertukaran pelajar yang melibatkan OAP (Orang Asli Papua), kita dapat berpegang pada tiga prinsip utama Sumpah Pemuda:

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

    Dengan melibatkan pelajar OAP dalam program pertukaran internasional, kita tidak hanya memberdayakan kemajuan pendidikan mereka tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Program pertukaran ini menjadi saluran diplomasi bagi para peserta OAP untuk mewakili identitas persatuan dan keberagaman Indonesia, serta menghidupkan nilai-nilai Sumpah Pemuda bahkan di luar batas negara.

    Ketika para pelajar ini belajar di luar negeri, mereka menjadi duta identitas Indonesia. Melalui penggunaan bahasa Indonesia dalam interaksi sehari-hari, mereka memperkuat komitmen terhadap satu bahasa. Dengan membawa nilai-nilai Indonesia dalam setiap pertemuan dan hubungan sosial, mereka mencerminkan satu tanah air. Dan melalui dedikasi mereka dalam studi dan kontribusi bagi kemajuan Indonesia, mereka menjadi bagian dari satu bangsa, berkontribusi bagi masa depan Indonesia di panggung global.

    Sebagai kesimpulan, inisiatif melibatkan pelajar OAP dalam program pertukaran ini memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia dengan menanamkan esensi Sumpah Pemuda dalam misi mereka. Para pelajar ini tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memperkaya narasi Indonesia tentang persatuan dan inklusi. Kehadiran dan pencapaian mereka menunjukkan komitmen Indonesia terhadap keberagaman, memperkuat dedikasi bangsa pada kesetaraan dan kesempatan pendidikan untuk seluruh warganya. Melalui kontribusi mereka, para pelajar ini mewujudkan Indonesia yang bersatu dan maju, menginspirasi kebanggaan serta persatuan di dalam negeri, sekaligus memproyeksikan kekuatan nilai-nilai Sumpah Pemuda di luar negeri.

Kamis, 24 Oktober 2024

Penggunaan Istilah "Target Kegiatan" sebagai Program Kerja dalam Konteks Anggaran Tidak Terrencana

Sam Rumbiak Bersama Dirjen Kuathan Kemhan tahun 2021
Dalam konteks manajemen dan pelaksanaan proyek atau kegiatan, istilah "program kerja" sering digunakan untuk merinci dan memprioritaskan aktivitas yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, dalam situasi di mana tidak ada anggaran yang disiapkan secara terencana seperti pada program kerja tahunan yang telah dianjurkan, penggunaan istilah ini menjadi lebih kompleks. Tulisan ini akan membahas tentang penggunaan istilah 'target kegiatan' menggantikan istilah program kerja yang digunakan menunjuk pekerjaan yang sudah terencana berikut dengan anggaran yang sudah disiapkan.

Perbedaan Antara Program Kerja Tahunan dengan Target Kegiatan
Program Kerja Tahunan: 
Biasanya, sebuah proyek atau organisasi memiliki rencana jangka panjang berupa program kerja tahunan yang sudah direncanakan sebelumnya. Rencana ini meliputi semua kegiatan yang akan dilaksanakan selama setahun, termasuk alokasi sumber daya dan anggaran yang cukup untuk menjamin pelaksanaannya.
Target Kegiatan Tanpa Anggaran Terrencana: 
Ketika tidak ada anggaran yang disediakan secara terstruktur, maka target kegiatan harus ditetapkan tanpa dukungan finansial yang nyata. Hal ini memerlukan adaptasi strategis dalam mengatur prioritas dan sumber daya yang sudah ada.


Implikasi Penggunaan Istilah Target Kegiatan Tanpa Anggaran Terrencana
Prioritas Aktivitas Pokja:
Dalam situasi tanpa anggaran terrencana, prioritas harus diberikan kepada kegiatan yang paling esensial bagi pencapaian tujuan utama. Hal ini membutuhkan analisis yang cermat tentang apa saja yang dapat dilakukan dengan sumber daya yang tersedia.

Kreativitas Sumber Daya Pokja:
Penggunaan sumber daya harus dikembangkan secara kreatif agar tetap efektif meskipun tidak ada anggaran tambahan. Contohnya, menggunakan teknologi digital gratis, kolaborasi tim, serta partisipasi sukarela (misalnya dengan menggunakan tenaga internship yang ada).

Komunikasi Pokja:
Komunikasi antar tim Pokja sangat penting untuk menjaga keselarasan dan motivasi dalam melakukan kegiatan tanpa bantuan anggaran resmi. Setiap anggota tim diharapkan dapat diminta untuk memberikan kontribusi, tentunya sesuai kemampuan mereka.

Adaptasi Strategi yang dihasilkan:
Dengan adanya kondisi ekonomi yang tidak stabil, strategi adaptatif harus digunakan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang berkembang. Ini bisa berarti membuat rencana B backup jika rencana awal gagal. Misalnya dengan perubahan nama karena anggaran yang disalurkan pada organisasi struktural yang lebih tertata. Fleksibilitas perubahan cara dan bentuk kegiatan menjadi keharusan selama tujuan fundamental kegiatan tercapai.

Pengawasan Efektifitas pada kegiatan Pokja:
Meski tidak ada anggaran formal, efektivitas kegiatan Pokja masih harus dipantau. Indeks evaluasi seperti output vs input, waktu tempuh proyek, dan umpan balik dari hasil kegiatan juga penting untuk dinilai.Dalam sintesis, penggunaan istilah “program kerja” sebagai “target kegiatan” dalam konteks tanpa anggaran terrencana memerlukan fleksibilitas tingkat tinggi. Oleh karena itu, adaptasi strategis dan komunikasi tim Pokja yang efektif menjadi kunci untuk mencapai tujuan meski dalam kondisi ekonomi yang tidak ideal. 

Demikianlah pembahasan perbedaan penggunaan istilah dan dampak dari penggunaan istilah terhadap kegiatan dan hasil dari kegiatan. Semoga dengan uraian ini dapat memberikan kepastian terhadap penggunaan istilah menunjuk kegiatan yang dilaksanakan. Sekian 

Senin, 30 September 2024

Mengukur Keefektifan Pokja DP Kemhan

Meninjau pelaksana CDP di Inggris

Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan (Pokja DP) yang dibentuk oleh Sekjen Kemhan dirasakan efektif untuk mendorong gagasan dan kolaborasi dalam mendorong diwujudkannya sebuah Diplomasi Pertahanan sebagai sebuah strategi. Berdasarkan indikator kegiatan dan gagasan yang sudah dilakukan oleh Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan tersebut, maka Sekjen Kemhan mengharapkan agar Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan Kemhan dapat diperpanjang. 

Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan Kemhan dibentuk dengan tujuan untuk memberikan gagasan, informasi dan kolaborasi untuk mendorong implementasi strategi Diplomasi Pertahanan di Kementerian Pertahanan. 

Efektifitas organisasi atau kelompok kerja Diplomasi Pertahanan Kemhan ini dapat diukur dengan menggunakan indikator yang ada dalam Key Performances Indicator (KPI) beberapa diantaranya adalah:

  • Pencapaian Tujuan (Goals)
  • Produktifitas dan efisiensi 
  • Kolaborasi dan Komunikasi 
  • Kepuasan Kerja

Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan Kemhan masih menjadi perhatian pimpinan Kemhan sehingga masa kerja Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan Kemhan diperpanjang dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sekjen Kemhan tahun 2024. Diharapkan pada kesempatan berikutnya Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan Kemhan (Pokja DP Kemhan) dapat meningkatkan Efektifitas dan Efisiensi organisasi dalam melaksanakan tugas. Untuk hal tersebut organisasi Pokja DP Kemhan disusun lebih lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan pencapaian tujuan organisasi. 

Dibutuhkan manajemen organisasi yang memenuhi kebutuhan kegiatan organisasi terkait Planning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC).

Planning (Perencanaan): Menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan organisasi. Pokja DP membuat perencanaan gagasan Diplomasi Pertahanan Indonesia melalui empat Bidang. Masing-masing bidang mempunyai indikator yang berfungsi untuk mengatur capaian Diplomasi Pertahanan Indonesia serta kinerja Pokja itu sendiri. Penyusunan rencana kerja Pokja DP Kemhan didasarkan arahan pimpinan Kemhan dan analisa data yang diperoleh dari lembaga resmi Kemhan ataupun diluar Kemhan. 

Organizing (Pengorganisasian): Mengatur sumber daya dan tugas untuk mencapai tujuan.  Organisasi Pokja DP disusun dengan menggabungkan seluruh potensi yang dimiliki oleh Kemhan. Sehingga diharapkan kegiatan Diplomasi Pertahanan adalah kegiatan Kemhan bukan sekedar kegiatan yang dimiliki oleh satu satker tetapi merupakan hasil kolaborasi dari berbabagi unit di Kemhan.

Actuating (Penggerakan): Menggerakkan anggota organisasi untuk melaksanakan rencana. Pokja DP adalah organisasi bentukan yang bertugas memberikan saran dan masukan serta memberikan inisiatif dan mendorong kolaborasi. Sehingga kegiatan yang dilakukan oleh Pokja DP sekali lagi mendorong kegiatan-kegiatan satker yang sudah ada ditambah dengan fokus pada aspek Diplomasi Pertahanan.

Controlling (Pengendalian): Untuk memantau dan mengevaluasi, pelaksanaan rencana agar sesuai dengan harapan atau keinginan pimpinan, Pokja DP melakukan berbagai rapat koordinasi dengan struktur Kemhan atau diluar Kemhan serta memberikan laporan secara berkala ataupun laporan pada kegiatan yang urgen. 

Sebagai langkah awal anggota Pokja Diplomasi Pertahanan Kemhan dapat menyusun rencana yang memenuhi POAC dengan  format organisasi yang masih sama dengan Pokja DP dalam Sprint tahun 2023.  Secara umum kegiatan Pokja DP sebagai berikut:

Perencanaan: Dilaksanakan kegiatan yang mendorong tercapainya tujuan Diplomasi Pertahanan Indonesia melalui diplomasi dalam negeri, luar negeri, akademik dan media. Perencanaan disusun berdasarkan indikator dan informasi yang ada. Output yang diharapkan dari Pokja DP Kemhan adalah dalam bentuk saran dan gagasan kepada pimpinan Kemhan atau Satker Kemhan. 

Pengorganisasian: Untuk mencapai tujuan dalam perencanaan tersebut dibutuhkan pengorganisasian yang fit dengan tujuan yang ingin dicapai. Organisasi dengan format yang sama tetapi lebih dilengkapi pada Sprint Sekjen Kemhan tahun 2024. 

Pengarahan: Kegiatan perlu diarahkan dengan baik agar dapat mencapai tujuan dalam memberikan inisiatif dan gagasan kepada pimpinan tentang Diplomasi Pertahanan. 

Pengendalian: Dibutuhkan pengendalian bukan hanya sebagai cara pimpinan memberikan arah kegiatan atau gagasan tetapi juga menjadi bentuk perhatian yang dibutuhkan oleh organisasi. 

Demikan beberapa langkah yang dapat dilakukan agar didapatkan ukuran atau indikasi pencapaian tujuan dari sebuah organisasi seperti Kelompok Kerja Diplomasi Pertahanan Kemhan. 

Selesai. 

Jumat, 13 September 2024

Mengapa Selandia Baru dan Papua Niugini mengapresiasi peran Indonesia di Pasifik Selatan

Sumber Foto: depositphotos.com

Selandia Baru dan Papua Nugini mengapresiasi peningkatan peran Indonesia di Pasifik Selatan karena beberapa alasan:


Selandia Baru sebagai Pusat Masyarakat Pasifik

Selandia Baru menjadi tempat tinggal mayoritas masyarakat Pasifik di luar negara asal mereka. Jumlah komunitas Pasifik di Selandia Baru bahkan lebih besar dibandingkan di negara asalnya sendiri, seperti Cook Islands, Samoa, dan lainnya. Selandia Baru dapat disebut sebagai pusat masyarakat Pasifika di dunia. Dengan posisi strategis ini, Selandia Baru mengapresiasi upaya diplomasi budaya Indonesia yang mendekatkan diri dengan masyarakat Pasifik di Selandia Baru. 


Papua Nugini sebagai Negara Tetangga

Sebagai negara tetangga, Papua Nugini mengapresiasi perhatian Indonesia terhadap Pasifik Selatan. Indonesia dianggap sebagai tetangga dan sahabat yang sangat memperhatikan kawasan ini. 


Inisiatif Indonesia Menggelar Forum Pasifik Selatan

Indonesia mengambil inisiatif menggelar Forum Indonesia-Pasifik Selatan (ISPF) yang dihadiri 15 negara dan 2 wilayah di Pasifik Selatan. Forum ini dianggap penting sebagai wahana mencari format kerjasama regional. 


Dengan demikian, Selandia Baru mengapresiasi upaya diplomasi budaya Indonesia, sementara Papua Nugini menghargai perhatian dan inisiatif Indonesia dalam membangun kerjasama di kawasan Pasifik Selatan. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya dukungan terhadap peran Indonesia di wilayah tersebut.