Tampilkan postingan dengan label Diplomasi Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diplomasi Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2026

Pesparawi dan Pertahanan Indonesia

NASKAH AKADEMIK SINGKAT

Pesparawi sebagai Instrumen Pertahanan Nir-Militer dalam Penguatan Ketahanan Nasional

Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi)

I. Pendahuluan

Perubahan karakter ancaman terhadap negara dewasa ini menunjukkan pergeseran signifikan dari ancaman militer konvensional menuju ancaman nir-militer dan hibrida, seperti disintegrasi sosial, perang narasi, krisis identitas kebangsaan, serta degradasi moral dan etika publik. Ancaman-ancaman tersebut bekerja secara halus namun sistemik, menyasar kesadaran, nilai, dan kohesi sosial masyarakat sebagai fondasi utama ketahanan nasional.

Dalam konteks tersebut, pertahanan negara tidak lagi dapat bertumpu semata pada kekuatan militer, tetapi harus diperkuat melalui pembangunan ketahanan sosial, budaya, dan psikologis masyarakat. Pendekatan ini menempatkan warga negara sebagai aktor utama pertahanan, dengan menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya persatuan, cinta tanah air, dan tanggung jawab kebangsaan.

Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) sebagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan umat Kristen memiliki potensi strategis dalam mendukung pertahanan nir-militer. Melalui seni suara dan ekspresi iman, Pesparawi menghadirkan ruang pembinaan nilai, disiplin, dan kebersamaan yang berkontribusi langsung pada penguatan karakter warga negara yang berjiwa nasionalis dan berorientasi pada kepentingan bangsa.

Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, Pesparawi menjadi medium internalisasi cinta tanah air dan bela negara yang bersifat kultural dan persuasif. Nilai-nilai kebangsaan disampaikan secara alami, tidak memaksa, dan diterima sebagai bagian dari pengabdian iman, sehingga membentuk kesadaran bela negara yang tulus, berakar, dan berkelanjutan.


II. Landasan Konseptual Pertahanan Nir-Militer

Pertahanan nir-militer merupakan bagian integral dari Sistem Pertahanan Negara yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pertahanan, bukan semata objek perlindungan. Pendekatan ini menekankan bahwa kekuatan bangsa terletak pada kualitas manusia, nilai, dan persatuan sosial.

Fokus utama pertahanan nir-militer meliputi:

  • ketahanan ideologi,
  • ketahanan sosial dan budaya,
  • ketahanan psikologis dan moral, serta
  • ketahanan terhadap ancaman non-fisik dan non-militer.

Pendekatan ini menitikberatkan pada pencegahan konflik, penguatan persatuan, serta pembangunan karakter bangsa sebagai basis daya tangkal nasional. Dalam kerangka ini, kegiatan sosial-keagamaan yang bersifat positif, inklusif, dan menyatukan berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dari arsitektur pertahanan nir-militer.

Pesparawi sebagai kegiatan kolektif lintas daerah dan komunitas gerejawi merupakan contoh nyata aktivitas sosial-kultural yang berkontribusi langsung pada penguatan ketahanan nasional melalui cara-cara damai, bermartabat, dan berorientasi pada persatuan anak bangsa.


III. Pesparawi dalam Perspektif Sosial dan Budaya

Pesparawi bukan sekadar ajang seni suara gerejawi, melainkan ruang perjumpaan sosial lintas wilayah, etnis, bahasa, dan latar belakang jemaat. Dalam satu panggung Pesparawi, keberagaman Indonesia hadir sebagai kekuatan yang disatukan oleh tujuan bersama.

Dalam praktiknya, Pesparawi:

  • membangun kohesi sosial melalui kerja kolektif, latihan disiplin, dan solidaritas antar peserta;
  • menguatkan identitas kebangsaan melalui ekspresi iman yang hidup dalam bingkai Indonesia;
  • menjadi medium dialog kultural dan spiritual yang damai, terbuka, dan non-konfrontatif.

Dimensi ini menjadikan Pesparawi relevan sebagai instrumen ketahanan sosial-budaya dalam kerangka pertahanan nir-militer, karena mampu merawat persatuan di tengah keberagaman serta memperkuat rasa memiliki terhadap bangsa dan negara.


IV. Pesparawi dan Internalisasi Nilai Bela Negara

Nilai-nilai yang terkandung dan dipraktikkan dalam Pesparawi memiliki keselarasan langsung dengan nilai dasar bela negara, antara lain:

  • disiplin dan tanggung jawab,
  • kerja sama dan kepemimpinan,
  • pengabdian dan pengorbanan,
  • loyalitas terhadap komunitas, bangsa, dan negara.

Internalisasi nilai tersebut berlangsung secara alamiah, partisipatif, dan non-doktriner, melalui proses latihan, kebersamaan, dan penghayatan makna. Dengan demikian, Pesparawi berkontribusi membentuk karakter warga negara yang tangguh secara moral dan psikologis, serta memiliki kesadaran bela negara yang berangkat dari hati dan keyakinan.


V. Relevansi Strategis bagi Pertahanan Nir-Militer

Dalam konteks ancaman multidimensi yang dihadapi bangsa saat ini, Pesparawi berkontribusi pada:

  1. pencegahan konflik horizontal melalui penguatan persaudaraan dan solidaritas sosial;
  2. penangkalan perang narasi dan disinformasi dengan membangun identitas serta kepercayaan diri kolektif;
  3. penguatan moral bangsa sebagai fondasi ketahanan nasional jangka panjang.

Kontribusi tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menekankan penguatan persatuan, moderasi beragama, pembangunan karakter bangsa, serta pengembangan pertahanan nir-militer berbasis masyarakat. Dengan demikian, Pesparawi dapat diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pertahanan rakyat semesta pada dimensi nir-militer.


VI. Implikasi Kebijakan

Pesparawi berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai:

  1. Mitra strategis pemerintah dalam pembinaan kesadaran bela negara berbasis budaya dan iman.
  2. Wahana kolaborasi antara lembaga keagamaan, pemerintah daerah, dan kementerian/lembaga terkait dalam penguatan ketahanan sosial.
  3. Contoh praktik baik pemanfaatan kegiatan keagamaan-kultural untuk mendukung pertahanan negara tanpa militerisasi ruang sipil.

Implementasi nyata antara lain:

  • integrasi pesan cinta tanah air dan persatuan dalam rangkaian kegiatan Pesparawi;
  • sinergi pembinaan antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan komunitas seni gerejawi;
  • penguatan jejaring nasional melalui koordinasi dengan Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional sebagai pengelola dan pembina Pesparawi secara berjenjang.

VII. Penutup

Pesparawi memiliki signifikansi strategis sebagai instrumen pertahanan nir-militer yang berkontribusi pada penguatan ketahanan sosial, budaya, dan moral bangsa. Melalui pendekatan yang inklusif, damai, dan non-kekerasan, Pesparawi menunjukkan bahwa iman, budaya, dan nasionalisme dapat bersinergi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ke depan, diharapkan Pesparawi semakin dipahami dan diberdayakan sebagai bagian dari arsitektur pertahanan nir-militer nasional, sehingga ketahanan bangsa tidak hanya kokoh secara fisik dan institusional, tetapi juga kuat secara moral, psikologis, dan sosial dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman masa depan. IFP


Immanuel Franthos Papare

Analis Kebijakan Strategis Pertahanan

Sabtu, 26 Oktober 2024

Membangun Persatuan dan Diplomasi Pertahanan: Menghidupkan Nilai-Nilai Sumpah Pemuda melalui Program Pertukaran Pelajar OAP

Untuk menggunakan "Sumpah Pemuda" sebagai landasan dalam diplomasi pertahanan melalui program pertukaran pelajar yang melibatkan OAP (Orang Asli Papua), kita dapat berpegang pada tiga prinsip utama Sumpah Pemuda:

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

    Dengan melibatkan pelajar OAP dalam program pertukaran internasional, kita tidak hanya memberdayakan kemajuan pendidikan mereka tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Program pertukaran ini menjadi saluran diplomasi bagi para peserta OAP untuk mewakili identitas persatuan dan keberagaman Indonesia, serta menghidupkan nilai-nilai Sumpah Pemuda bahkan di luar batas negara.

    Ketika para pelajar ini belajar di luar negeri, mereka menjadi duta identitas Indonesia. Melalui penggunaan bahasa Indonesia dalam interaksi sehari-hari, mereka memperkuat komitmen terhadap satu bahasa. Dengan membawa nilai-nilai Indonesia dalam setiap pertemuan dan hubungan sosial, mereka mencerminkan satu tanah air. Dan melalui dedikasi mereka dalam studi dan kontribusi bagi kemajuan Indonesia, mereka menjadi bagian dari satu bangsa, berkontribusi bagi masa depan Indonesia di panggung global.

    Sebagai kesimpulan, inisiatif melibatkan pelajar OAP dalam program pertukaran ini memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia dengan menanamkan esensi Sumpah Pemuda dalam misi mereka. Para pelajar ini tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memperkaya narasi Indonesia tentang persatuan dan inklusi. Kehadiran dan pencapaian mereka menunjukkan komitmen Indonesia terhadap keberagaman, memperkuat dedikasi bangsa pada kesetaraan dan kesempatan pendidikan untuk seluruh warganya. Melalui kontribusi mereka, para pelajar ini mewujudkan Indonesia yang bersatu dan maju, menginspirasi kebanggaan serta persatuan di dalam negeri, sekaligus memproyeksikan kekuatan nilai-nilai Sumpah Pemuda di luar negeri.

Kamis, 24 Oktober 2024

Penggunaan Istilah "Target Kegiatan" sebagai Program Kerja dalam Konteks Anggaran Tidak Terrencana

Sam Rumbiak Bersama Dirjen Kuathan Kemhan tahun 2021
Dalam konteks manajemen dan pelaksanaan proyek atau kegiatan, istilah "program kerja" sering digunakan untuk merinci dan memprioritaskan aktivitas yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, dalam situasi di mana tidak ada anggaran yang disiapkan secara terencana seperti pada program kerja tahunan yang telah dianjurkan, penggunaan istilah ini menjadi lebih kompleks. Tulisan ini akan membahas tentang penggunaan istilah 'target kegiatan' menggantikan istilah program kerja yang digunakan menunjuk pekerjaan yang sudah terencana berikut dengan anggaran yang sudah disiapkan.

Perbedaan Antara Program Kerja Tahunan dengan Target Kegiatan
Program Kerja Tahunan: 
Biasanya, sebuah proyek atau organisasi memiliki rencana jangka panjang berupa program kerja tahunan yang sudah direncanakan sebelumnya. Rencana ini meliputi semua kegiatan yang akan dilaksanakan selama setahun, termasuk alokasi sumber daya dan anggaran yang cukup untuk menjamin pelaksanaannya.
Target Kegiatan Tanpa Anggaran Terrencana: 
Ketika tidak ada anggaran yang disediakan secara terstruktur, maka target kegiatan harus ditetapkan tanpa dukungan finansial yang nyata. Hal ini memerlukan adaptasi strategis dalam mengatur prioritas dan sumber daya yang sudah ada.


Implikasi Penggunaan Istilah Target Kegiatan Tanpa Anggaran Terrencana
Prioritas Aktivitas Pokja:
Dalam situasi tanpa anggaran terrencana, prioritas harus diberikan kepada kegiatan yang paling esensial bagi pencapaian tujuan utama. Hal ini membutuhkan analisis yang cermat tentang apa saja yang dapat dilakukan dengan sumber daya yang tersedia.

Kreativitas Sumber Daya Pokja:
Penggunaan sumber daya harus dikembangkan secara kreatif agar tetap efektif meskipun tidak ada anggaran tambahan. Contohnya, menggunakan teknologi digital gratis, kolaborasi tim, serta partisipasi sukarela (misalnya dengan menggunakan tenaga internship yang ada).

Komunikasi Pokja:
Komunikasi antar tim Pokja sangat penting untuk menjaga keselarasan dan motivasi dalam melakukan kegiatan tanpa bantuan anggaran resmi. Setiap anggota tim diharapkan dapat diminta untuk memberikan kontribusi, tentunya sesuai kemampuan mereka.

Adaptasi Strategi yang dihasilkan:
Dengan adanya kondisi ekonomi yang tidak stabil, strategi adaptatif harus digunakan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang berkembang. Ini bisa berarti membuat rencana B backup jika rencana awal gagal. Misalnya dengan perubahan nama karena anggaran yang disalurkan pada organisasi struktural yang lebih tertata. Fleksibilitas perubahan cara dan bentuk kegiatan menjadi keharusan selama tujuan fundamental kegiatan tercapai.

Pengawasan Efektifitas pada kegiatan Pokja:
Meski tidak ada anggaran formal, efektivitas kegiatan Pokja masih harus dipantau. Indeks evaluasi seperti output vs input, waktu tempuh proyek, dan umpan balik dari hasil kegiatan juga penting untuk dinilai.Dalam sintesis, penggunaan istilah “program kerja” sebagai “target kegiatan” dalam konteks tanpa anggaran terrencana memerlukan fleksibilitas tingkat tinggi. Oleh karena itu, adaptasi strategis dan komunikasi tim Pokja yang efektif menjadi kunci untuk mencapai tujuan meski dalam kondisi ekonomi yang tidak ideal. 

Demikianlah pembahasan perbedaan penggunaan istilah dan dampak dari penggunaan istilah terhadap kegiatan dan hasil dari kegiatan. Semoga dengan uraian ini dapat memberikan kepastian terhadap penggunaan istilah menunjuk kegiatan yang dilaksanakan. Sekian 

Sabtu, 31 Agustus 2024

Perjalanan Panjang Konflik Papua


Oleh: Aida Rahma Savitri


Sumber: wartaplus.com, 2022


Ketidakpuasan penduduk Papua pada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, memicu perlawanan yang lebih serius dengan membentuk gerakan politik militer yang sering disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM). Perlawanan bersenjata pecah untuk pertama kalinya pada 26 Juli 1965 di Manokwari1.

Menurut laporan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) berjudul The Current Status of The Papuan Pro-Independence Movement, kegiatan penambangan Freeport pada 1973 memicu aktivitas militer OPM di wilayah Timika dan kemudian pada Mei 1977, sekitar 200 gerilyawan OPM menyerang Freeport dan direspons dengan operasi militer1.

Sejak saat itu, konflik Papua dimulai. Meskipun eskalasi dapat terbilang fluktuatif, namun bara api konflik di Papua tetap membara hingga saat ini.

Penelitian telah dilakukan Tim Kajian Papua LIPI pada tahun 2009 memetakan empat akar persoalan di Papua yang tertulis pada laporan berjudul "Papua Road Map". Empat persoalan yaitu kegagalan pembangunan, marginalisasi dan diskriminasi orang asli Papua, kekerasan negara dan pelanggaran HAM, serta sejarah dan status politik wilayah Papua2. Penelitian ini juga menjadi inspirasi penelitian lain yang telah dilakukan sampai saat ini.

Namun, sudah lebih dari setengah abad konflik Papua, upaya yang dilakukan pemerintah tidak mengubah eskalasi konflik secara signifikan. Bahkan pada tahun 2023, Senator Papua Barat Dr. Filep Wamafma mengajak pemerintah dan pihak terkait lainnya untuk membahas serta mencarikan solusi atas 4 akar permasalahan di Papua yang dirumuskan oleh peneliti LIPI sejak lama3. Hal ini menggambarkan bahwa hasil penelitian masih relevan untuk dicarikan solusinya.

Sejak lebih dari 40 tahun lamanya, LIPI (yang saat ini menjadi BRIN), telah melakukan penelitian terkait Papua dengan peneliti lebih dari 200 orang lintas disiplin ilmu. Pada tahun 2021, LIPI telah mendokumentasikan penelitian-penelitian tersebut dengan harapan dapat menjadi kontribusi ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan pemerintah dalam pengambilan kebijakan4

Fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa berbagai upaya yang telah dilaksanakan, masih perlu dikembangkan agar hasilnya menjadi signifikan dan tidak terhenti pada rekomendasi dari sebuah penelitian belaka. Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan dapat memperkuat upaya penelitian konflik melalui sudut pandang yang berbeda. Pertahanan atas keutuhan wilayah NKRI harus dilakukan dalam berbagai aspek, salah satunya pendekatan humanis melalui diplomasi.

Kementerian Pertahanan dapat menangkap rekomendasi penyelesaian konflik Papua dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para akademisi, dengan strategi yang tepat dan cepat.

Lalu, dibutuhkan berapa tahun lagi agar Indonesia dapat benar-benar menyelesaikan konflik di Papua? 


1Widadio, Nicky Aulia, dkk. 2019. Riwayat konflik Papua, tanah kaya di ujung timur Indonesia. Diakses pada 31 Agustus 2024 pukul 14.31 WIB melalui https://www.aa.com.tr/id/berita-analisis/riwayat-konflik-papua-tanah-kaya-di-ujung-timur-indonesia/1635906#.

2Widjojo, Muridan Satrio. 2009. Papua Road Map: Negotiating The Past, Improving The Present, And Securing The Future. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

3Admin. 2023. Senator Filep Dorong ‘4 Akar Masalah Papua Hasil Riset LIPI’ Ditindaklanjuti. Diakses pada 31 Agustus 2024 pukul 14.34 WIB melalui https://dpd.go.id/daftar-berita/senator-filep-dorong-4-akar-masalah-papua-hasil-riset-lipi-ditindaklanjuti.

4Gandhawangi, Sekar. 2021. Riset-riset 40 Tahun LIPI di Tanah Papua Didokumentasikan. Diakses pada 31 Agustus 2024 pukul 14.58 WIB melalui https://www.kompas.id/baca/ilmu-pengetahuan-teknologi/2021/05/03/riset-riset-40-tahun-lipi-di-tanah-papua-didokumentasikan.

Jumat, 30 Agustus 2024

Peran Diplomasi Pertahanan Untuk Stabilitas Global

Ditulis oleh: Syahnia Maharani

Diplomasi pertahanan merupakan alat penting dalam menciptakan dan mempertahankan stabilitas global.

Di tengah ketegangan internasional dan perubahan dinamika kekuatan dunia, diplomasi pertahanan membantu negara-negara untuk mengelola dan mengurangi konflik potensial melalui dialog dan kerjasama.

Melalui perjanjian pertahanan, latihan militer bersama, dan forum-forum internasional, negara-negara dapat membangun kepercayaan dan mengurangi risiko kesalahpahaman yang dapat mengarah pada konfrontasi militer. Dengan pendekatan yang strategis, diplomasi pertahanan memungkinkan negara-negara untuk mencapai keseimbangan kekuatan yang lebih baik, sehingga menciptakan lingkungan global yang lebih stabil.

Salah satu contoh nyata dari dampak positif diplomasi pertahanan adalah kerja sama keamanan antara negara-negara anggota NATO. Melalui perjanjian dan latihan bersama, anggota NATO tidak hanya meningkatkan kesiapan militer mereka tetapi juga memperkuat hubungan antar negara. Hal ini membantu dalam mencegah konflik dan meningkatkan respons kolektif terhadap ancaman global, seperti terorisme dan proliferasi senjata pemusnah massal. Kerjasama ini menunjukkan bagaimana diplomasi pertahanan dapat memainkan peran kunci dalam menciptakan keamanan bersama dan mengurangi ketegangan antar negara.

Selain itu, diplomasi pertahanan juga berfungsi sebagai platform untuk negara-negara yang mungkin tidak memiliki hubungan bilateral yang kuat untuk berkolaborasi dalam isu-isu keamanan. Forum-forum seperti Konferensi Keamanan München atau dialog bilateral dalam kerangka pertahanan dapat membantu negara-negara untuk menyepakati standar dan norma bersama dalam menangani isu-isu pertahanan. Ini tidak hanya membantu dalam meredakan ketegangan tetapi juga memberikan landasan bagi pengembangan kebijakan keamanan yang lebih kooperatif dan inklusif.

Namun, meskipun diplomasi pertahanan memiliki banyak manfaat, ia juga menghadapi tantangan. Perbedaan kepentingan nasional, ketidakpercayaan historis, dan kompleksitas geopolitik seringkali menghambat proses diplomasi. Untuk mengatasi tantangan ini, negara-negara perlu berkomitmen pada dialog terbuka dan transparansi. Diplomasi pertahanan yang efektif memerlukan upaya berkelanjutan dalam membangun hubungan, memahami perspektif masing-masing pihak, dan mencari win-win solution yang dapat diterima oleh semua pihak. 

Dengan pendekatan yang tepat, diplomasi pertahanan dapat terus memainkan peran penting dalam menciptakan dan mempertahankan stabilitas global.

Kamis, 29 Agustus 2024

Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS) Papua di Jakarta

 Oleh: Ismi Sri Septiani


    Organisasi kemasyarakatan (ormas) menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 merupakan organisasi yang didirikan oleh warga negara Indonesia secara sukarela, berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan. Berdasarkan fatwa Undang-Undang tersebut, secara eksplisit maupun implisit, organisasi kemasyarakatan (ormas) dibentuk untuk berpartisipasi dalam pembangunan domestik demi tercapainya tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentu saja pembentukan organisasi kemasyarakatan ini tidak mudah dilakukan, mengingat perlu adanya pemenuhan aturan-aturan yang harus dilakukan, agar visi misi yang dibangun oleh organisasi kemasyarakatan dapat berjalan beriringan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh Indonesia. 

    Berkaitan dengan organisasi kemasyarakatan (ormas), masyarakat timur Indonesia yakni Papua, turut mengulurkan tangan untuk andil dalam spektrum nasional melalui pembentukan organisasi kemasyarakatan yang telah memenuhi standar kualifikasi pemerintah berdasarkan Undang-Undang. Berdasarkan hal tersebut, dibawah ini adalah daftar organisasi kemasyarakat (ormas) Papua di wilayah Jakarta, berikut dengan penjabaran tujuan pembentukan organisasi tersebut, diantaranya:

1. Ikatan Keluarga Besar Papua (IKBP)

Ketua: Ayub Faidiban

Deksripsi: IKBP bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat Papua yang berada di perantauan, terutama di Jakarta. Organisasi ini juga mendukung program-program pemerintah seperti Daerah Otonomi Baru (DOB) yang bertujuan untuk memajukan Papua​. Mereka sering mengadakan acara budaya, pertemuan sosial, serta kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk anggotanya.

2. Papua Connect

Ketua: Vera Paulette Lolong

Deskripsi: Papua Connect adalah sebuah istilah yang menggambarkan upaya untuk memperkuat konektivitas dan komunikasi antara berbagai komunitas dan individu di wilayah Papua. Ini mencakup berbagai aspek, seperti infrastruktur telekomunikasi, transportasi, serta pertukaran budaya dan pengetahuan. Dalam konteks yang lebih luas, Papua Connect juga dapat merujuk pada inisiatif yang bertujuan untuk menghubungkan Papua dengan dunia luar, memperluas akses pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi bagi penduduk Papua. Semakin baik konektivitas di wilayah ini, semakin besar potensi untuk pembangunan dan kemajuan.

3. Lembaga Transformasi Papua

Ketua: Alex Silas Ick

Deskripsi: Lembaga ini fokus pada pemberdayaan masyarakat adat di Papua dan Papua Barat. Misinya termasuk melestarikan tanah dan budaya lokal, meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menghadapi tantangan modern seperti perubahan iklim, serta memperkuat kapasitas komunitas akar rumput untuk mandiri secara ekonomi dan sosial​ 

4. Komunitas Papua Jakarta (KOPAJA)

Ketua: Informasi tidak ditemukan

Deskripsi: Komunitas Papua Jakarta (KOPAJA) adalah sebuah komunitas yang memiliki peran penting dalam menghubungkan dan memperkuat ikatan antara anak muda Papua di Jakarta. Mereka berfokus pada mempromosikan budaya dan jati diri masyarakat Bumi Cenderawasih serta memperluas jaringan komunikasi. 

5. Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA)

Ketua: Okto Gobay

Wakil Ketua: Bram Antanai

Deskripsi: IMAPA adalah organisasi yang terdiri dari mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta. Organisasi ini, berfokus pada advokasi pendidikan, penyediaan beasiswa, serta kegiatan sosial dan budaya yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa Papua.

6. Ikatan ASN Papua di Jakarta 

Ketua: Laurens Tecuari

Deskripsi: Ikatan ASN Papua di Jakarta adalah sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan dan pelayanan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Papua, dengan kantor pusatnya berada di Jakarta. Organisasi ini berperan dalam memberikan bantuan dan dukungan kepada ASN Papua, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalitas mereka. Dengan demikian, Ikatan ASN Papua di Jakarta berperan sebagai motor penggerak dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalitas ASN Papua, serta memberikan bantuan kepada masyarakat di wilayah tersebut.

    Daftar nama organisasi kemasyarakatan (ormas) Papua diatas, merupakan organisasi yang telah diakui oleh pemerintah Indonesia berdasarkan ketetapan perundang-undangan. Dengan adanya hal tersebut, diharapkan agar pemberdayaan yang dilakukan oleh elemen masyarakat dan pemerintah dapat dilakukan secara nyata dan komprehensif, mengingat organisasi kemasyarakatan (ormas) Papua ini dapat menjadi salah satu media atau ruang aktif untuk saling bersinergi, baik antar anggota bahkan pemerintah dalam menyelaraskan visi misi yang ingin dicapai oleh masing-masing pihak, melalui pertemuan yang dilakukan secara intensif, pemberian gagasan atau ide terkait dengan bagaimana cara menanggulangi suatu persoalan secara bersama (antara ormas dan pemerintah), dan lain sebagainya.

Sekian

Jumat, 23 Agustus 2024

Kunjungan Tim EDGE Group Persatuan Emirat Arab (PEA) sebagai Bentuk Kerjasama Indonesia di Bidang Pertahanan dan Keamanan

Oleh : Ismi Sri Septiani dan Syahnia Maharani



Pada tanggal 22 Agustus 2024, Ditjen Strahan Kemhan ikut serta dalam pelaksanaan rapat Kunjungan Tim EDGE Group Persatuan Emirat Arab (PEA) yang dilaksanakan di  Rupat Lantai I Gedung M. Sjafruddin Prawiranegara, Jalan Budi Kemuliaan No. 4-6 Jakarta Pusat, pada pukul 13.30 dipimpin oleh Dirrenbanghan Ditjen Renhan. Pertemuan tersebut tidak lain berpusat pada penawaran produk senjata, alat transportasi, teknologi komunikasi, cyber, dan amunisi. Tidak hanya itu, pihak Emirat Arab juga menyampaikan terkait dengan mekanisme perusahaan tersebut yang merupakan gabungan dari beberapa perusahaan yang ada di UAE.

Setelahnya, disampaikan terkait dengan spesifikasi senjata yang dimiliki, mulai dari jenis atau nama alat tersebut, lalu sejauh mana kapabilitas yang dimiliki oleh masing-masing alat yang ditawarkan, dan bagaimana alat tersebut ketika beroperasi di lapangan ketika dibutuhkan. Semua indikator tersebut disampaikan oleh pihak Emirat Arab sebagai upaya untuk menarik minat Indonesia dalam melakukan transaksi kebutuhan pertahanan. Menurut pandangan saya ini merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan alutsista yang bersifat fundamental bila kaitannya dengan upaya dalam menjaga marwah pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia.

Selama proses tersebut berlangsung, tidak muncul kendala yang signifikan dari pihak Kementerian Pertahanan Indonesia dalam merespon hal-hal yang telah disampaikan oleh EDGE Group terkait kerjasama yang ditawarkan. Pihak Kementerian Pertahanan Indonesia tentu saja sangat mendukung agar kegiatan kerjasama ini dapat berjalan dengan baik, sebagai tambahan, pihak EDGE Group disarankan mengunjungi setiap angkatan/TNI untuk mendapatkan informasi alutsista apa yang dibutuhkan. 

Kamis, 22 Agustus 2024

"Indonesia Tengah Siapkan Diplomasi Pertahanan ke 11 Negara Sebagai Upaya Penanganan Isu Papua"


Rabu, 21 Agustus 2024

Pada Rabu, 21 Agustus 2024, dilaksanakan rapat evaluasi Pokja Diplomasi Pertahanan (DP) di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Donny Ermawan T., M.D.S., serta Ketua Pokja DP Brigjen TNI Dr. Oktaheroe Ramsi, S.IP., M.Sc. Rapat yang dilaksanakan membahas rencana strategis kunjungan diplomasi Indonesia ke 11 negara, yang bertujuan untuk mengatasi krusialitas isu Papua serta mendorong diplomasi pertahanan yang lebih efektif.

Pokja DP merencanakan pembentukan empat tim yang akan berkunjung ke negara-negara seperti Australia, Prancis, Inggris, dan Fiji. Masing-masing tim akan membawa undangan dan poin-poin diskusi untuk mempererat hubungan dan kerjasama terkait isu Papua. Pertemuan diplomatik ini dijadwalkan berlangsung pada 21-30 November 2025 di Jakarta, dengan tujuan memperluas kerjasama internasional. 

Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk meningkatkan dukungan internasional dan membangun persepsi positif Indonesia di mata internasional.

Harapan dari kegiatan oleh Pokja DP ini yaitu agar diplomasi tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dalam hubungan internasional dan memastikan bahwa upaya-upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di Papua dipahami dan didukung oleh komunitas global.

Rekonstruksi Strategi Pertahanan Indonesia dalam Menghadapi Krisis Pertahanan Domestik

Oleh : Ismi Sri Septiani

Memaknai konsep pertahanan dalam kehidupan sehari-hari, cenderung berimplikasi pada upaya untuk melindungi atau mempertahankan sesuatu dari ancaman, serangan, atau gangguan. Namun bila masuk pada orientasi yang lebih luas, khususnya dalam konteks militer, pertahanan mengacu pada strategi, taktik, dan tindakan yang diambil oleh sebuah negara atau pasukan untuk menjaga keamanan wilayah dan integritas teritorial dari serangan musuh. 

Strategi dalam menyusun pertahanan khususnya dalam skala pertahanan militer tentu membutuhkan waktu dan gagasan yang matang. Tentu tidak mudah dilakukan, namun hal ini sudah semestinya dilakukan agar upaya dalam menjaga keutuhan negara Indonesia dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya tanpa adanya hal buruk yang dapat merugikan bangsa sendiri. Salah satu indikator fundamental yang dapat dilakukan yaitu melakukan identifikasi dan evaluasi ancaman yang mungkin dihadapi, baik dari segi skala, sumber, dan bentuknya, pahami kemampuan musuh atau pihak yang mungkin menyerang.

Indikator fundamental yang telah diuraikan diatas, boleh jadi telah Indonesia lakukan sejak lama, namun Indonesia perlu melakukan banyak evaluasi yang mendalam terkait dengan strategi jangka panjang yang sudah semestinya dilakukan. Seperti halnya terkait dengan cybersecurity yang saat ini tengah menjadi isu urgensi yang mesti diselesaikan oleh Indonesia, termasuk kaitannya dengan bagaimana Indonesia mampu melakukan diplomasi pertahanan untuk menengarai persoalan ini dengan negara-negara besar yang memiliki kapabilitas dalam keamanan siber. 

Untuk itu, prinsip dan usaha yang sedang dan akan Indonesia lakukan, sudah semestinya didasari dengan keinginan kuat, yang tidak berpusat hanya pada satu komponen, tetapi perlu melibatkan berbagai sektor dan komponen masyarakat yang relevan terhadap persoalan yang terjadi di Indonesia. Kita bukan negara yang berdiri sendiri, kita membutuhkan banyak pihak untuk ikut berdikari dan membangun Indonesia lebih baik lagi, khususnya dalam aspek pertahanan dan keamanan. 

Kebersamaan yang Kokoh: Strategi Membangun Persatuan di Indonesia

Oleh Melia Puspita Dewi 

Dalam konteks diplomasi pertahanan, kebersamaan yang kokoh adalah kunci untuk menjaga stabilitas dan keamanan Indonesia. Diplomasi pertahanan bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi juga tentang membangun hubungan yang saling percaya dan kerjasama antara berbagai pihak baik domestik maupun internasional. Strategi ini memerlukan pendekatan yang holistik, di mana semua elemen bangsa, termasuk pemerintah, militer, masyarakat sipil, dan sektor swasta, berperan aktif dalam membangun persatuan. Melalui dialog yang terbuka dan koordinasi yang efektif, Indonesia dapat menciptakan sinergi yang menguatkan pertahanan nasional serta memperkuat posisi negara dalam arena internasional.

Pentingnya diplomasi pertahanan dalam membangun kebersamaan terletak pada kemampuannya untuk mengatasi ancaman bersama dengan cara yang terkoordinasi. Indonesia memiliki beragam tantangan, mulai dari konflik regional hingga ancaman non-tradisional seperti terorisme dan perubahan iklim. Dalam menghadapi ancaman ini, kerjasama lintas sektoral dan antarnegara menjadi sangat vital. Diplomasi pertahanan yang kokoh memungkinkan integrasi strategi yang lebih baik, pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, serta pembentukan aliansi strategis yang dapat memperkuat ketahanan negara. Keberhasilan dalam hal ini bergantung pada keterlibatan semua pihak dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan pertahanan.

Selain itu, diplomasi pertahanan yang efektif juga melibatkan diplomasi publik untuk membangun dukungan masyarakat terhadap kebijakan pertahanan. Edukasi dan komunikasi yang transparan tentang tujuan dan manfaat kebijakan pertahanan dapat meningkatkan pemahaman dan partisipasi publik. Program-program yang melibatkan masyarakat dalam aktivitas pertahanan, seperti pelatihan, simulasi, dan seminar, dapat menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama terhadap keamanan nasional. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, kebersamaan dalam mempertahankan integritas negara akan semakin kuat.

Terakhir, membangun kebersamaan dalam diplomasi pertahanan juga memerlukan penekanan pada prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman, penting untuk memastikan bahwa semua kelompok dan daerah memiliki akses yang adil terhadap sumber daya pertahanan dan perlindungan yang sama. Dengan mengedepankan inklusivitas, Indonesia dapat memperkuat solidaritas di antara warganya, sekaligus membangun citra negara yang berkomitmen pada persatuan dan keadilan. Kebersamaan yang kokoh dalam diplomasi pertahanan tidak hanya mencerminkan kekuatan militer, tetapi juga kekuatan sosial dan politik yang mendasarinya.

Rabu, 14 Agustus 2024

Kunjungan Mahasiswa Magang Pokja DP ke Ormas IKBP (Ikatan Keluarga Besar Papua)

Pada hari Rabu 14 Agustus 2024, dilaksanakan kunjungan mahasiswa magang Ditkersinhan khususnya Pokja DP ke sekretariat Organisasi masyarakat IKBP (Ikatan Keluarga Besar Papua) di Jakarta. Kunjungan ini bertujuan membahas berbagai hal terkait perkembangan kegiatan dari Ormas IKBP bersama Bapak DR. Ayub Faidiban, S.H., M.BA selaku Ketum dari Ormas IKBP.

Hadir pada kesempatan ini 4 orang mahasiswa magang di Ditkersinhan khususnya dari Pokja DP terdiri dari 3 mahasiswa magang berasal dari Universitas Jenderal Achmad Yani, dan 1 mahasiswa yang berasal dari Universitas Pertamina. 

Dalam kunjungan ke ormas IKBP tersebut Bapak Ayub menyampaikan tentang kegiatan rutin yang diadakan oleh ormas IKBP, antara lain menghimpun serta merangkul putera-puteri asli Papua khususnya yang berada di Jakarta untuk dapat memperluas relasi dan menjaga eksistensi Papua serta menjaga nama baik Papua di masyarakat luas. 

Setelah berdiskusi dan mendapatkan penjelasan terkait IKBP, mahasiswa magang ditkersinhan Pokja DP kemudian mengunjungi ruang sekretariat IKBP dan mengambil beberapa dokumentasi. 

Selasa, 13 Agustus 2024

Optimalisasi Diplomasi Pertahanan Melalui Media Digital

Oleh Jacinda Zahra Eskha Aurora

            Diplomasi pertahanan nampak tidak bisa terlepas dari keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Diplomasi pertahanan sendiri dapat didefinisikan sebagai seluruh bentuk manuver pertahanan yang dilakukan antara dua aktor atau lebih. Kita mengetahui bahwa unsur-unsur negara yang terdiri dari pemerintah, rakyat, dan wilayah terharmonisasikan serta menciptakan suatu pola-pola kehidupan yang terjadi secara berkelanjutan. Untuk memproteksi keberlangsungan tersebut maka diperlukan pilar-pilar pertahanan, yang bisa memiliki konteks yang cukup kompleks. Pertahanan dapat berasal dari beberapa sisi, yakni teritorial, kemanusiaan, hingga sumber daya nasional. Manifestasi dari pencapaian sektor-sektor tersebut dapat dilakukan oleh seluruh aktor yang ada di dalam negara, seperti pemerintah, hingga masyarakat. Masyarakat merupakan unsur utama dari kekokohan suatu negara. Upaya yang merantai dengan eksistensi masyarakat, paling dekat dapat dicapai melalui wadah digital. Tidak bisa dipungkiri bahwa media digital adalah jalur yang pergerakannya terjadi dalam waktu cepat. Media digital juga mudah dijangkau oleh siapapun dan kapanpun, atau dalam kata lain bersifat fleksibel.

            Dalam konteks diplomasi pertahanan, media digital dapat menunjukkan kompleksitas jangkauan aspeknya. Memang menitikberatkan pada jaringan-jaringan yang dapat dicapai, namun media digital mampu menghasilkan efek yang sangat luas dan signifikan. Sebut saja pada fenomena-fenomena media framing atau konstruksi persepsi melalui media yang seringkali terjadi di beberapa negara. Terdapat negara yang sepenuhnya mengambilalih kontrol media seperti Cina ataupun Korea Utara. Media dapat menuangkan informasi secara publik mengenai seluruh hal yang tengah terjadi di negara tersebut. Namun, bisa jadi media tersebut memiliki limitasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebelumnya. Di samping itu, publik memiliki keterbatasan dalam menjangkau suatu informasi, tergantung berdasarkan ketetapan atau pengaturan dalam media yang mereka miliki. Dalam hal ini, secara langsung dapat terlihat bahwa limitasi yang ditentukan terkait persebaran informasi kepada publik merupakan implikasi dari nilai esensial dalam suatu persepsi publik.

            Pengelolaan media digital pada akhirnya memiliki nilai vital. Pemerintah merupakan eksekutor dari aktivitas ketatanegaraan ataupun implementasi dari kebijakan-kebijakan domestik. Akan tetapi proyeksi dari diplomasi pertahanan bisa dipengaruhi oleh persepsi publik. Dalam hal ini, diplomasi pertahanan secara langsung dapat berkorelasi dengan intensitas media digital. Oleh karena itu menjadi penting untuk melakukan optimalisasi pengelolaan media digital demi mendorong diplomasi pertahanan yang maksimal dan tepat sasaran. Masyarakat merupakan kunci dari legitimasi pemerintahan suatu negara. Jika pemerintah tidak mampu menciptakan kepercayaan dari masyarakat terhadap implementasi yang dilakukan, maka output dari suatu kebijakan, bahkan hasil dari diplomasi pertahanan berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan di tengah masyarakat. Sementara itu, upaya pertahanan dilakukan untuk memproteksi seluruh aspek dalam negara, termasuk kehidupan masyarakat. Maka dari itu masyarakat perlu mengambil peranan sebagai stabilisasi fungsi pemerintah.

            Memiliki korelasi dengan eksplanasi sebelumnya, media digital di era kontemporer kerap kali menunjukkan opini publik mengenai implementasi dari diplomasi pertahanan suatu negara. Misalnya, portal-portal berita ataupun akun resmi pemerintah menampilkan aktivitas diplomasi pertahanan melalui media sosial TikTok, hingga Instagram, dan menuai banyak komentar yang beragam. Jaringan global melalui media sosial pada kenyataannya dapat memberikan efek domino dari keberlanjutan diplomasi tersebut. Apabila persebaran informasi melalui media digital tidak optimal ataupun tidak sesuai dengan fakta yang ada (media framing dalam konteks menyimpang), maka disinformasi dan pergesekan sosial sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, kolaborasi dan integrasi antara pemerintah dan rakyat perlu diproteksi. Melalui media yang ada, diplomasi pertahanan yang dijalankan oleh pemerintah dapat dioptimalisasi dengan kolaborasi intens bersama aktor-aktor swasta atau masyarakat, supaya diplomasi tersebut dapat berlangsung sesuai proyeksi yang dicanangkan.

Diplomasi Pertahanan Melalui Peran Pemuda

 


    Oleh Meylan Regina Lukita

    Menjaga keamanan kepentingan negara merupakan suatu tujuan yang sangat penting, oleh karena itu diplomasi menjadi salah satu cara dalam mewujudkan kepentingan tersebut. Diplomasi digunakan untuk mempengaruhi, membangun, dan memelihara hubungan dengan orang lain. Pelaksanaan diplomasi tersebut dapat meggunakan sumber kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara misalnya seperti ekonomi, politik, kekuatan militer dan sebagainya. Salah satu bentuk diplomasi tersebut yaitu diplomasi pertahanan. Diplomasi pertahanan merupakan bagian dari diplomasi internasional yang dilakukan untuk menjalin hubungan antar negara terkait dengan isu keamanan dan stabilitas regional ataupun global.

    Semua orang dapat melakukan diplomasi untuk mempertahankan kepentingannya ataupun mendukung suatu kepentingan negaranya. Peran tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh para kepentingan negara saja, tetapi juga masyarakat dari negara tersebut salah satunya peran pemuda saat ini. Para pemuda saat ini harus mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Peran aktif pemuda merupakan agen perubahan sebagai perwujudan dari fungsi serta karakteristik dalam pembangunan nasional. Peran pemuda tersebut dapat diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan dan menumbuhkan kesadaran terkait tanggung jawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara.

    Saat ini dengan berbagai kemajuan teknologi yang ada, media sosial sangat berpengaruh terhadap penyebaran informasi yang meluas secara cepat. Dalam diplomasi pertahanan pemuda dapat berperan dalam memberi informasi terkait isu-isu keamanan dan pertahanan kepada masyarakat luas, hal tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan seminar, pembuatan konten informatif, dan kampanye di media sosial. Dengan melihat keadaan saat ini bahwa para pemuda lebih aktif pada akun media sosial yang mereka punya, hal tersebut dapat berguna dalam meningkatkan pemahaman tentang tantangan keamanan dan pentingnya diplomasi dalam menyelesaikan isu-isu terkait keamanan kepada masyarakat umum. Dengan keadaan yang lebih modern dan pemikiran para pemuda yang lebih kritis, para pemuda dapat berkontribusi pada pengembangan inovatif dalam bidang pertahanan dan keamanan yang nantinya dapat menciptakan teknologi baru.

    Peran pemuda dalam diplomasi pertahanan internasional juga dapat dilakukan dengan cara melakukan kolaborasi internasional. Hal tersebut dapat membantu dalam membangun hubungan baik antar negara dan memperkuat kolaborasi di tingkat internasional dalam bidang pertahanan. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut yaitu dengan terlibat dalam organisasi internasional atau jaringan global, lalu mengikuti forum diskusi dan kebijakan tentang keamanan global, dan sebagainya. Dengan berbagai hal yang telah dipaparkan dapat menarik suatu kesimpulan bahwa peran pemuda dalam diplomasi pertahanan sangat penting untuk dapat memberikan kontribusi dalam melaksanakan kebijakan pertahanan serta membantu menciptakan keadaan dunia yang aman dan stabil.

Kamis, 18 April 2024

Keberhasilan Misi Kuali Merah Putih di Tanah Papua

 

Keberhasilan Misi Kuali Merah Putih di Tanah Papua

Bobon Santoso, Personil TNI dan Masyarakat Adat Papua sedang melakukan foto Bersama

Pembagian Makanan Olahan Daging oleh Tim Kuali Merah Putih


Masyarakat Adat Papua menerima Bantuan Pangan oleh Tim Kuali Merah Putih

Pada April 2024, TNI melakukan Kolaborasi dengan Bobon Santoso Content Creator indonesia terkenal dengan Julukan Chef Rakyat Indonesia untuk melakukan sebuah misi yang dianggap unik bagi berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang dinamai Misi Kuali Merah Putih merupakan kegiatan memasak pada kawasan keamanan Zona Merah di wilayah Papua seperti Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya.

Beberapa Satgas yang bertugas di Papua seperti Satgas Yonif 133/Yudha Sakti dan Satgas Yonif 623/ Bhakti Wira Utama diberi mandat oleh Mabes TNI untuk mengawal dan mensukseskan Misi Kuali Merah Putih yang dimana untuk menggandeng masyarakat papua kegiatan sosial dan menumbuhkan nasionalisme di tengah-tengah keberagaman. Selain itu Misi Tersebut juga melakukan pembagian Paket Sembako, Susu dan Wafer serta menggelar mewarnai dan membaca bagi anak-anak dan pengobatan gratis bagi masyarakat setempat.

Layanan Pengobatan Gratis oleh Personil TNI di Papua


Kegiatan Masak oleh Tim Kuali Merah Putih


Misi ini telah mengolah 1 Ekor Sapi, 240 Ekor Ayam dan 300 kg Beras untuk membuat olahan masakan dengan menggunakan wajan berukuran besar untuk bisa dinikmati oleh masyarakat. Ketika melaksanakan misi tersebut, terdapat berbagai tantangan dimana menguras tenaga, pikiran dan materi karena lokasi yang akan menjadi misi ini memiliki medan yang sangat berat dan berbahaya mengingat kawasan tersebut berada di kawasan dengan Keamanan Zona Merah dimana memerlukan pengamanan yang berlapis-lapis oleh Satgas TNI yang bertugas saat itu guna menanggulangi ancaman baik oleh alam maupun manusia.

Masyarakat setempat menyambut keberlangsungan Misi Kuali Merah secara positif dengan diarak dan diadakan pertunjukan tarian daerah setempat dimana banyak warga dapat menikmati olahan masakan yang dibuat oleh Bobon Santoso dan Tim-nya serta memperoleh bantuan pangan dan pelayanan pengobatan gratis

 

 

Sumber :

admin2. (2024, April 15). Yuk intip, Pasukan Yudha Sakti sukses kawal misi “Kuali Merah Putih” Bobon Santoso di Wilayah Red Zone: Website Tentara nasional Indonesia. Puspen TNI. https://tni.mil.id/view-239692-yuk-intip-pasukan-yudha-sakti-sukses-kawal-misi-kuali-merah-putih-bobon-santoso-di-wilayah-red-zone.html

Banafanu, Y. L., & Supar, E. (2024, April 12). TNI Gandeng youtuber Masak Seribu porsi daging SAPI untuk Warga Maybrat. ANTARA News Papua Barat. https://papuabarat.antaranews.com/berita/42795/tni-gandeng-youtuber-masak-seribu-porsi-daging-sapi-untuk-warga-maybrat

Misi Kuali Merah Putih Bobon Santoso menembus Daerah Rawan di Kabupaten Maybrat. Kodam VI/ Mulawarman. (2024, April 12). https://kodam6-mulawarman-tniad.mil.id/misi-kuali-merah-putih-bobon-santoso-menembus-daerah-rawan-di-kabupaten-maybrat

Nst. (2024, April 13). Bersama Satgas YONIF 623/BWU, Bobon Santoso tembus Maybrat jalani Misi Kuali Merah Putih - Indonesiadefense.com: Informasi Berita Terkini Dan Terbaru Hari Ini Hankam Dan Tni %. Indonesiadefense.com | Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini Hankam Dan TNI. https://indonesiadefense.com/bersama-satgas-yonif-623-bwu-bobon-santoso-tembus-maybrat-jalani-misi-kuali-merah-putih/