Selasa, 13 Agustus 2024

Optimalisasi Diplomasi Pertahanan Melalui Media Digital

Oleh Jacinda Zahra Eskha Aurora

            Diplomasi pertahanan nampak tidak bisa terlepas dari keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Diplomasi pertahanan sendiri dapat didefinisikan sebagai seluruh bentuk manuver pertahanan yang dilakukan antara dua aktor atau lebih. Kita mengetahui bahwa unsur-unsur negara yang terdiri dari pemerintah, rakyat, dan wilayah terharmonisasikan serta menciptakan suatu pola-pola kehidupan yang terjadi secara berkelanjutan. Untuk memproteksi keberlangsungan tersebut maka diperlukan pilar-pilar pertahanan, yang bisa memiliki konteks yang cukup kompleks. Pertahanan dapat berasal dari beberapa sisi, yakni teritorial, kemanusiaan, hingga sumber daya nasional. Manifestasi dari pencapaian sektor-sektor tersebut dapat dilakukan oleh seluruh aktor yang ada di dalam negara, seperti pemerintah, hingga masyarakat. Masyarakat merupakan unsur utama dari kekokohan suatu negara. Upaya yang merantai dengan eksistensi masyarakat, paling dekat dapat dicapai melalui wadah digital. Tidak bisa dipungkiri bahwa media digital adalah jalur yang pergerakannya terjadi dalam waktu cepat. Media digital juga mudah dijangkau oleh siapapun dan kapanpun, atau dalam kata lain bersifat fleksibel.

            Dalam konteks diplomasi pertahanan, media digital dapat menunjukkan kompleksitas jangkauan aspeknya. Memang menitikberatkan pada jaringan-jaringan yang dapat dicapai, namun media digital mampu menghasilkan efek yang sangat luas dan signifikan. Sebut saja pada fenomena-fenomena media framing atau konstruksi persepsi melalui media yang seringkali terjadi di beberapa negara. Terdapat negara yang sepenuhnya mengambilalih kontrol media seperti Cina ataupun Korea Utara. Media dapat menuangkan informasi secara publik mengenai seluruh hal yang tengah terjadi di negara tersebut. Namun, bisa jadi media tersebut memiliki limitasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebelumnya. Di samping itu, publik memiliki keterbatasan dalam menjangkau suatu informasi, tergantung berdasarkan ketetapan atau pengaturan dalam media yang mereka miliki. Dalam hal ini, secara langsung dapat terlihat bahwa limitasi yang ditentukan terkait persebaran informasi kepada publik merupakan implikasi dari nilai esensial dalam suatu persepsi publik.

            Pengelolaan media digital pada akhirnya memiliki nilai vital. Pemerintah merupakan eksekutor dari aktivitas ketatanegaraan ataupun implementasi dari kebijakan-kebijakan domestik. Akan tetapi proyeksi dari diplomasi pertahanan bisa dipengaruhi oleh persepsi publik. Dalam hal ini, diplomasi pertahanan secara langsung dapat berkorelasi dengan intensitas media digital. Oleh karena itu menjadi penting untuk melakukan optimalisasi pengelolaan media digital demi mendorong diplomasi pertahanan yang maksimal dan tepat sasaran. Masyarakat merupakan kunci dari legitimasi pemerintahan suatu negara. Jika pemerintah tidak mampu menciptakan kepercayaan dari masyarakat terhadap implementasi yang dilakukan, maka output dari suatu kebijakan, bahkan hasil dari diplomasi pertahanan berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan di tengah masyarakat. Sementara itu, upaya pertahanan dilakukan untuk memproteksi seluruh aspek dalam negara, termasuk kehidupan masyarakat. Maka dari itu masyarakat perlu mengambil peranan sebagai stabilisasi fungsi pemerintah.

            Memiliki korelasi dengan eksplanasi sebelumnya, media digital di era kontemporer kerap kali menunjukkan opini publik mengenai implementasi dari diplomasi pertahanan suatu negara. Misalnya, portal-portal berita ataupun akun resmi pemerintah menampilkan aktivitas diplomasi pertahanan melalui media sosial TikTok, hingga Instagram, dan menuai banyak komentar yang beragam. Jaringan global melalui media sosial pada kenyataannya dapat memberikan efek domino dari keberlanjutan diplomasi tersebut. Apabila persebaran informasi melalui media digital tidak optimal ataupun tidak sesuai dengan fakta yang ada (media framing dalam konteks menyimpang), maka disinformasi dan pergesekan sosial sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, kolaborasi dan integrasi antara pemerintah dan rakyat perlu diproteksi. Melalui media yang ada, diplomasi pertahanan yang dijalankan oleh pemerintah dapat dioptimalisasi dengan kolaborasi intens bersama aktor-aktor swasta atau masyarakat, supaya diplomasi tersebut dapat berlangsung sesuai proyeksi yang dicanangkan.