![]() |
| Infografis: Pidato Presiden |
Pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto di Sidang Tahunan MPR RI (15/8) memuat pesan tegas soal kedaulatan, kekuatan nasional, dan pertahanan yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi dan diplomasi. Di balik deretan capaian dan target besar, tersimpan mandat strategis yang langsung menyentuh meja kerja Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Ditjen Strahan) Kementerian Pertahanan.
Presiden menggarisbawahi bahwa “kekuatan suatu negara terletak pada bagaimana negara itu menguasai dan mengelola kekayaannya.” Pesan ini menjadi pegangan bagi Ditjen Strahan untuk memastikan kebijakan pertahanan mampu melindungi kekayaan strategis sekaligus mendukung pembangunan nasional.
Menghidupkan Doktrin Sishankamrata
Dengan rencana pembentukan puluhan satuan baru TNI di darat, laut, dan udara, Ditjen Strahan dituntut memastikan doktrin Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta bukan sekadar jargon. Doktrin ini harus diterjemahkan menjadi sistem pertahanan menyeluruh yang menggerakkan kekuatan militer, sipil, dan sumber daya nasional secara terpadu.
Pertahanan sebagai Penopang Ekonomi
Kedaulatan pangan, energi, dan hilirisasi SDA yang diangkat Presiden menempatkan Ditjen Strahan di posisi strategis untuk mengamankan sentra produksi vital. Perlindungan lahan pangan baru di Kalimantan dan Papua, jalur distribusi energi, hingga fasilitas industri strategis harus masuk dalam skema pertahanan nasional.
Diplomasi Pertahanan di Panggung Global
Bergabungnya Indonesia ke BRICS dan keterlibatan aktif di forum internasional memberi ruang lebar bagi Ditjen Strahan untuk mengarahkan diplomasi pertahanan sebagai instrumen geopolitik. Ini mencakup penguatan kerja sama internasional, transfer teknologi, dan pembukaan akses pasar industri pertahanan Indonesia.
Mengawal Sumber Daya Strategis
Arahan Presiden untuk menertibkan jutaan hektar lahan sawit ilegal dan tambang liar membutuhkan peran Ditjen Strahan dalam merancang kebijakan pertahanan yang menjamin sumber daya strategis tidak jatuh ke tangan pihak asing atau kelompok yang merugikan negara.
Merancang Pertahanan Masa Depan
Dengan penekanan Presiden pada penguasaan teknologi, khususnya artificial intelligence, Ditjen Strahan perlu memimpin perencanaan modernisasi alutsista, pengembangan industri pertahanan nasional, dan pembentukan SDM pertahanan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Kesimpulan:
Pidato Presiden kali ini bukan hanya laporan kerja, melainkan peta jalan untuk masa depan Indonesia. Ditjen Strahan memegang peran vital untuk menerjemahkan visi tersebut ke dalam strategi pertahanan yang realistis dan terukur. Dari penguatan doktrin Sishankamrata, integrasi pertahanan dengan pembangunan, diplomasi global, pengamanan SDA, hingga modernisasi teknologi, semua menjadi bagian dari satu misi: memastikan Indonesia berdaulat, kuat, dan disegani di panggung dunia.
Demikian,
Jakarta, 16 Agustus 2025
