Jumat, 22 Agustus 2025

Satu Komando, Satu Loyalitas: Pesan Menhan di Balik Olahraga Bersama Kemhan-TNI

Menhan pada acara olahraga bersama di Monas tanggal 22 Agustus 2025
Menteri Pertahanan kembali menegaskan prinsip utama dalam menjaga pertahanan negara: satu otak, satu komando. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa Kementerian Pertahanan (Kemhan) adalah otak, sementara Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah otot yang menjalankan setiap kebijakan strategis maupun administratif. Prinsip ini menegaskan pentingnya sinergi tanpa celah, tanpa dualisme, dan tanpa keraguan dalam melaksanakan tugas demi kedaulatan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Menhan menyampaikan tiga pesan utama yang menjadi pegangan seluruh jajaran Kemhan dan TNI. Pertama, soliditas dan kekompakan adalah kunci—bukan sekadar simbol, melainkan fondasi yang memastikan seluruh komponen pertahanan berjalan dalam satu barisan, satu semangat, dan satu tujuan. Kedua, disiplin dan tata kelola harus dimulai dari individu. Integritas dan profesionalisme hanya dapat diwujudkan bila setiap insan Kemhan menjunjung disiplin pribadi. Ketiga, kehormatan adalah segalanya. Nama baik Kemhan, menurutnya, adalah warisan yang akan dikenang hingga ke generasi mendatang.


Suasana pembagian doorprize
Usai penyampaian arahan, kegiatan olahraga bersama digelar dengan penuh semangat dan tertib. 



Seluruh peserta menunjukkan antusiasme tinggi, ditutup dengan pembagian hadiah yang menambah semarak suasana. Apresiasi diberikan kepada panitia dan peserta atas kekompakan yang ditunjukkan, sekaligus menegaskan bahwa nilai disiplin dan tata kelola dapat tercermin bahkan dalam kegiatan sederhana sekalipun.

Meski berjalan sukses, beberapa catatan evaluasi tetap muncul. Manajemen kegiatan dinilai sudah baik, namun akan lebih bermanfaat jika kegiatan ini dijadikan agenda rutin. Konsumsi yang disediakan sudah memadai, sementara mekanisme pembagian doorprize melalui kupon berlangsung lancar, meski masih menyisakan tantangan. Beberapa peserta menilai praktik “titip” dalam pengambilan hadiah, baik dengan maupun tanpa kupon, masih kerap disalahgunakan.

Pesan utama Menhan menjadi refleksi penting dari peristiwa ini: disiplin dan tata kelola mulai dari individu serta menjaga kehormatan adalah segalanya. Bahkan hal kecil seperti mekanisme pembagian hadiah mencerminkan nilai besar dalam pertahanan negara—keteraturan, keadilan, dan penghormatan pada aturan. Dari satu kegiatan olahraga bersama, tumbuh semangat kolektif untuk terus memperkuat loyalitas pada negara di bawah komando yang sama.



Demikian,


Selasa, 19 Agustus 2025

300 Hari Kerja Prabowo: Janji Mulai Terlihat

Sumber Foto: Google

Genap 300 hari sudah Presiden Prabowo Subianto dan Kabinet Merah Putih bekerja sejak dilantik pada Oktober 2024. Dalam laporan kerja edisi 17 Agustus 2025, terlihat sejumlah capaian awal yang mulai dirasakan masyarakat, dari meja makan hingga panggung diplomasi internasional.

Ekonomi Tetap Tumbuh. Meski dunia diguncang perang dagang, ekonomi Indonesia tetap tangguh. Pertumbuhan mencapai 5,12% pada kuartal II 2025, salah satu tertinggi di G20. Inflasi terkendali di 1,87%, pengangguran turun ke 4,76%—terendah sejak krisis 1998. Investasi juga melonjak Rp 942 triliun dengan 1,25 juta lapangan kerja baru, sementara cadangan beras nasional menyentuh rekor 4,2 juta ton.

Program Sosial Dirasakan Langsung. Janji kampanye mulai terwujud. Program Makan Bergizi Gratis sudah menjangkau 8,2 juta anak dan akan meluas hingga 82 juta penerima di akhir tahun. Cek Kesehatan Gratis telah dinikmati 18 juta warga, sementara gaji guru naik signifikan. Biaya haji diturunkan, dan ratusan Sekolah Rakyat gratis mulai berdiri.

Infrastruktur dan Pangan. Dari Merauke hingga Pantura, pembangunan bergerak. Pemerintah mencetak 2 juta hektar sawah baru, menetapkan harga gabah Rp 6.500/kg untuk menyejahterakan petani, dan meluncurkan program 3 juta rumah rakyat. Proyek raksasa seperti Giant Sea Wall di pesisir utara Jawa dan penuntasan IKN 2028 jadi target utama.

Politik dan Keamanan. Pemerintah juga menggulirkan agenda bersih-bersih. Kasus besar korupsi Pertamina dibongkar dengan potensi kerugian Rp 1.000 triliun. Sistem pertahanan siber diperkuat lewat pembentukan CSIRT di setiap instansi. Presiden bahkan memilih mobil buatan dalam negeri, Maung, sebagai kendaraan dinas—simbol kemandirian bangsa.

Diplomasi Aktif. Di luar negeri, Indonesia semakin percaya diri. Resmi bergabung dengan BRICS, bersiap memimpin D-8, serta dalam proses masuk ke OECD. Perjanjian dagang dengan Kanada dan Uni Eropa dikebut, sementara diplomasi bilateral menghasilkan komitmen investasi baru senilai Rp 1.000 triliun.

Kesimpulan. Dalam 300 hari, janji kampanye mulai terasa meski jalan panjang masih terbentang. Dari gizi anak, kesehatan, rumah rakyat, hingga panggung global—Kabinet Merah Putih ingin menunjukkan kerja cepat. Warga kini menunggu, apakah capaian awal ini bisa terus dijaga dan diperluas dalam lima tahun ke depan.


Demikian,

Kemhan dalam Sistem Tata Negara: Penjaga Utama Pertahanan Republik

(Seri 1 – Tugas dan Fungsi Kementerian Pertahanan)

Seri Mengenal Kemhan
JakartaDalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Kementerian Pertahanan (Kemhan) memiliki peran yang sangat strategis: menjadi pengelola utama urusan pertahanan negara. Peran ini ditegaskan dalam sejumlah aturan hukum, mulai dari UUD 1945 Pasal 30, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, hingga Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara.

Jika TNI adalah garda terdepan yang bertugas menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah, maka Kemhan adalah dapur besar yang menyiapkan kebijakan, strategi, dan sumber daya agar kekuatan pertahanan tetap kokoh. Presiden, sebagai Panglima Tertinggi, memberi mandat kepada Menteri Pertahanan untuk merancang dan mengarahkan kebijakan pertahanan nasional.

Tugas Pokok: Dari Kebijakan hingga Pembinaan

Kemhan bertugas membantu Presiden menyelenggarakan pemerintahan di bidang pertahanan. Tugas ini dijabarkan dalam UU No. 3/2002, antara lain:

  • Menyusun kebijakan umum pertahanan negara.
  • Menetapkan kebijakan penggunaan kekuatan pertahanan bersama Panglima TNI.
  • Membina dan mengelola kekuatan pertahanan, termasuk sumber daya manusia, logistik, alutsista, dan wilayah pertahanan.
  • Mengelola komponen pertahanan: Komponen Utama (TNI), Komponen Cadangan (Komcad), dan Komponen Pendukung (rakyat serta sumber daya nasional).
  • Melaksanakan hubungan internasional di bidang pertahanan, yang kini dikenal sebagai diplomasi pertahanan.

Dengan tugas-tugas ini, Kemhan menempati posisi sentral: menghubungkan kekuatan militer dengan kekuatan rakyat, sekaligus menjembatani kepentingan nasional di kancah internasional.

Fungsi Strategis: Lebih dari Sekadar Administrasi

Banyak orang awam membayangkan Kemhan hanya sebagai kantor administratif. Padahal, fungsinya jauh lebih besar:

  1. Merumuskan dan menetapkan kebijakan pertahanan nasional.
  2. Mengelola pembangunan kekuatan pertahanan, mulai dari postur TNI, pengadaan alutsista, hingga teknologi.
  3. Membina komponen pertahanan melalui pendidikan, riset, dan pelatihan.
  4. Menjalankan diplomasi pertahanan, menjalin kerja sama bilateral, regional, maupun multilateral.
  5. Mengawasi dan mengevaluasi jalannya kebijakan pertahanan agar tetap sejalan dengan tujuan nasional.

Singkatnya, Kemhan adalah otak strategis pertahanan Indonesia, sementara TNI adalah otot dan pelaksana operasionalnya.

Makna dalam Sistem Tata Negara

Posisi Kemhan sangat unik: ia bukan lembaga komando militer, melainkan kementerian sipil yang merumuskan arah dan kebijakan pertahanan. Hal ini menegaskan prinsip kontrol sipil atas militer (civilian supremacy) dalam demokrasi Indonesia.

Melalui Kemhan, pertahanan negara dikelola secara menyeluruh dengan melibatkan TNI, rakyat, serta sumber daya nasional lainnya dalam kerangka Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Inilah ciri khas pertahanan Indonesia: semesta, menyeluruh, dan melibatkan seluruh elemen bangsa.

Dasar hukum utama:

  • UUD 1945 Pasal 30
  • UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
  • UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara



Catatan Redaksi:
Tulisan ini adalah Seri 1 dari rangkaian liputan khusus mengenai peran Kementerian Pertahanan dalam sistem pertahanan nasional. Seri berikutnya akan membahas lebih jauh struktur organisasi terbaru Kemhan berdasarkan Perpres No. 85 Tahun 2025 dan dinamika modernisasi pertahanan Indonesia.



Senin, 18 Agustus 2025

Indonesia Tegaskan Pertahanan untuk Kemanusiaan

Data Bantuan Ke Gaza
Jakarta, 18 Agustus 2025 – Sehari setelah bangsa merayakan HUT ke-80 RI, wajah pertahanan Indonesia tampil nyata di panggung internasional. Dari pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, diplomasi pertahanan lintas negara, pengerahan personel, hingga tanggap bencana di Poso, semua menegaskan peran pertahanan yang semakin luas: melindungi rakyat sekaligus mengusung solidaritas global.


Strategi Pertahanan: Dari Senjata ke Solidaritas
TNI melaksanakan misi kemanusiaan dengan menjatuhkan 45 ton bantuan berupa makanan dan obat-obatan ke Gaza menggunakan pesawat Hercules C-130. Operasi ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia yang mencapai 800 ton bantuan, termasuk pembangunan rumah sakit lapangan di Pulau Galang untuk merawat hingga 2.000 korban.

Aksi ini menegaskan arah baru strategi pertahanan Indonesia yang tidak hanya berfokus pada ancaman militer, melainkan juga pada krisis kemanusiaan. Dunia menyaksikan bagaimana kebijakan pertahanan RI kini hadir di garis depan solidaritas global.

Dari perspektif kebijakan, misi ini adalah implementasi pertahanan semesta. Ancaman modern dipahami bukan semata konflik bersenjata, tetapi juga penderitaan manusia akibat perang. Strategi ini memperluas definisi pertahanan ke ranah kemanusiaan.

Analisa: Hal menunjukkan bahwa langkah ini menambah bobot moral strategi pertahanan Indonesia. Kekuatan nirmiliter, berupa solidaritas dan empati, terbukti mampu menjadi instrumen geopolitik yang efektif.

Kesimpulan: Indonesia berhasil memperluas cakrawala pertahanan. Negara ini kini dikenal tidak hanya sebagai pemilik kekuatan militer, tetapi juga pelopor strategi berbasis kemanusiaan.


Diplomasi Pertahanan Berbasis Kemanusiaan
Dukungan sejumlah negara sahabat terhadap misi Indonesia di Gaza memperlihatkan kepercayaan internasional terhadap peran RI. Dari kawasan Pasifik hingga Timur Tengah, Indonesia tampil sebagai mitra yang kredibel, mengusung diplomasi moral melalui jalur pertahanan.

Perayaan HUT RI ke-80 yang turut mendapat perhatian dunia memperkuat legitimasi Indonesia sebagai aktor global. Simbol-simbol solidaritas yang ditunjukkan sahabat-sahabat internasional kian menegaskan pentingnya kerja sama pertahanan yang berlandaskan kemanusiaan.

Dalam perspektif kerja sama, aksi di Gaza memperlihatkan bahwa diplomasi pertahanan dapat bergerak di luar kerangka tradisional. Solidaritas kemanusiaan menjadi pintu masuk untuk memperluas jaringan strategis lintas benua.

Analisa: Hal menegaskan bahwa Indonesia sedang membangun "modal kepercayaan" yang kuat. Relasi yang terbangun dari kerja sama kemanusiaan jauh lebih kokoh dibanding sekadar aliansi militer.

Kesimpulan: Kerjasama internasional pertahanan Indonesia semakin berorientasi pada solidaritas global. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin moral dunia berkembang.


TNI: Prajurit Tempur, Duta Kemanusiaan
Sebanyak 66 personel TNI dilibatkan dalam operasi pengiriman bantuan ke Gaza. Mereka tidak hanya bertugas sebagai prajurit, tetapi juga duta bangsa yang membawa pesan solidaritas kemerdekaan Indonesia.

Dengan teknologi dan disiplin operasi udara, bantuan berhasil dijatuhkan di zona target meski risiko sangat tinggi. Hal ini menegaskan kesiapan TNI dalam melaksanakan operasi non-konvensional di luar negeri.

Dari perspektif pengerahan kekuatan, keterlibatan pasukan dalam operasi kemanusiaan memperlihatkan fleksibilitas TNI. Kekuatan pertahanan kini tidak hanya diproyeksikan untuk perang, tetapi juga untuk misi perdamaian.

Analisa: Pengerahan kekuatan ke Gaza menjadi pembuktian profesionalisme TNI. Transformasi menuju angkatan bersenjata modern yang adaptif dan humanis semakin nyata.

Kesimpulan: Pengerahan ini meneguhkan citra TNI sebagai kekuatan yang bukan saja tangguh, tetapi juga berperan dalam agenda global. TNI hadir sebagai wajah humanis Indonesia di dunia internasional.


Poso: Bencana Alam Sebagai Ujian Pertahanan Wilayah
Gempa bumi berkekuatan M5,8 di Poso, Sulawesi Tengah, sehari sebelumnya menewaskan satu orang, melukai puluhan, dan merusak infrastruktur penting. Gereja yang roboh saat ibadah berlangsung menjadi simbol rapuhnya wilayah rawan bencana.

TNI bersama aparat daerah segera dikerahkan untuk mengevakuasi korban dan menyiapkan pemulihan. Peristiwa ini mengingatkan kembali pentingnya sistem pertahanan kewilayahan yang tidak hanya fokus pada aspek militer, tetapi juga kesiagaan menghadapi bencana alam.

Dalam perspektif kewilayahan, bencana merupakan ancaman nonmiliter yang menguji ketahanan wilayah. Peran TNI di lapangan memperlihatkan fungsi strategis pertahanan teritorial untuk melindungi rakyat.

Analisa: Kesiapan kewilayahan harus terus diperkuat. Rawan bencana harus diperlakukan sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional.

Kesimpulan: Tanggap bencana di Poso meneguhkan prinsip pertahanan semesta. Melindungi rakyat dari ancaman alam sama pentingnya dengan menghadapi ancaman.


Demikian,

Minggu, 17 Agustus 2025

Lagu yang Menggoyang Istana: Diplomasi Budaya dari Timur ke Barat

Sumber foto google
Jakarta, 17 Agustus 2025 – Di tengah suasana khidmat peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, sebuah momen unik sekaligus menggembirakan terjadi. Sebuah lagu bernuansa Timur–Barat berhasil “menggoyang” seluruh hadirin, termasuk Presiden, para menteri, hingga para tamu undangan. 

Musik yang semula hadir sebagai hiburan, berubah menjadi simbol nyata kekuatan budaya Nusantara—kekuatan non-militer yang sesungguhnya dapat menjadi instrumen pertahanan.

Lagu itu bercerita tentang relasi cinta seorang “kakak” dan “adik perempuan” yang dipenuhi pujian, godaan, dan penolakan halus. Meski kisahnya sederhana, makna yang tersirat jauh lebih dalam. Ada ekspresi kejujuran, spontanitas, dan keberanian khas budaya Timur, berpadu dengan kelembutan penolakan bernuansa Minang yang mewakili kearifan budaya Barat Indonesia. Pertemuan dua identitas kultural ini menciptakan harmoni yang menyentuh, membuat semua yang hadir larut dalam irama dan pesan lagu.


Ditinjau dari perspektif Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Ditjen Strahan), momentum ini memperlihatkan bagaimana budaya mampu berperan sebagai instrumen pertahanan nirmiliter. Lagu bukan sekadar hiburan, tetapi media diplomasi internal bangsa—menyatukan perbedaan dalam kegembiraan bersama. Di tengah ancaman global yang semakin kompleks, kesatuan nasional yang dipupuk melalui seni dan budaya adalah benteng pertahanan yang tak kalah penting dari alutsista.


Kekuatan lagu ini tidak hanya pada lirik yang jenaka dan romantis, tetapi juga pada cara ia menghubungkan dua dunia: Papua dan Minangkabau, Timur dan Barat Nusantara. Simbolisme ini sejalan dengan strategi pertahanan Indonesia yang mengedepankan integrasi nasional berbasis kearifan lokal. Dengan budaya sebagai medium, persatuan tidak dipaksakan, melainkan dirasakan secara alami.


Tersirat pula bahwa budaya bisa menjadi arena diplomasi lunak Indonesia ke dunia internasional. Jika di dalam negeri lagu ini mampu menyatukan presiden hingga rakyat biasa dalam satu irama, maka ke luar negeri, Indonesia dapat menggunakan diplomasi budaya untuk menampilkan wajah persaudaraan, harmoni, dan kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global tanpa harus mengerahkan kekuatan militer.


Seperti halnya perayaan 17 Agustus di Istana tahun ini, budaya telah menunjukkan dirinya sebagai senjata strategis nirmiliter. Lagu yang membuat semua orang bergoyang di ruang yang biasanya serius itu adalah pengingat bahwa pertahanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga tentang kemampuan bangsa untuk tetap bersatu, tersenyum, dan merayakan kebersamaan. Dalam bahasa Ditjen Strahan, inilah bentuk nyata dari pertahanan semesta berbasis budaya.

Sabtu, 16 Agustus 2025

Indonesia Perkuat Pertahanan dan Diplomasi Global di Tengah Dinamika Geopolitik

Infografis: Modernisasi KAAN

1. Arah Strategis Pertahanan Indonesia

Berita
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa “perdamaian adalah strategi terbaik” dalam kerangka kebijakan pertahanan nasional. Dalam pidatonya, ia memaparkan restrukturisasi besar TNI yang meliputi pembentukan enam Komando Daerah Militer (Kodam) baru, 14 Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal), tiga Pangkalan Udara TNI AU (Lanud), serta pembentukan satuan khusus dan brigade pembangunan wilayah. Ia menekankan bahwa Indonesia tetap memegang prinsip non-blok, namun proaktif menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik dan menyelesaikan sengketa seperti Ambalat melalui diplomasi (The Australian, 15/8/2025).

Lebih lanjut, Presiden menyuarakan peran aktif Indonesia di forum global melalui keanggotaan penuh di BRICS dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Ia juga menyinggung operasi kemanusiaan seperti pengiriman bantuan ke Gaza sebagai cerminan pertahanan inklusif yang menggabungkan diplomasi, kekuatan militer, dan kemanusiaan (The Australian, 15/8/2025; The Jakarta Post, 15/8/2025).

Analisa
Dalam perspektif Direktorat Kebijakan Strategi Pertahanan (Ditjakstrahan), restrukturisasi TNI ini menandakan modernisasi dan desentralisasi komando yang akan mempercepat respons militer di berbagai wilayah strategis. Doktrin “perdamaian sebagai strategi utama” memperkuat citra Indonesia sebagai negara transformatif dan bertanggung jawab di tingkat regional dan global.

Penekanan pada diplomasi multilateral, termasuk peran di BRICS dan kontribusi kemanusiaan, memperluas platform strategi pertahanan Indonesia, menjadikannya aktor global yang progresif dan inklusif.

Kesimpulan
Strategi pertahanan Indonesia kini seimbang: memperkuat kemampuan militer tanpa mengabaikan kekuatan diplomasi dan nilai kemanusiaan.


2. Diplomasi Pertahanan Global

Berita
Indonesia memperkuat kerjasama pertahanan internasional dengan mendukung interoperabilitas pasukan, pertukaran intelijen, dan pelatihan bersama, termasuk dengan Korea Selatan, China, dan Singapura. Agenda ini merupakan kelanjutan dari pertemuan bilateral yang telah dilaksanakan sebelumnya dan diarahkan untuk meningkatkan kesiapan bersama menghadapi ancaman kawasan (Kemhan.go.id, Agustus 2025).

Pemerintah juga menegaskan peran strategis melalui keikutsertaan aktif di BRICS, yang membuka peluang kolaborasi di bidang keamanan maritim dan rantai pasok pertahanan. Diplomasi ini memadukan aspek militer dan ekonomi-politik sebagai pilar menjaga stabilitas Indo-Pasifik (The Australian, 15/8/2025).

Analisa
Dalam perspektif Direktorat Kerjasama Internasional Pertahanan (Ditkersinhan), langkah diplomasi ini menunjukkan fokus pada pembangunan kemitraan strategis sambil menjaga fleksibilitas politik luar negeri. Aliansi dengan negara besar di Asia membantu memperkuat kemampuan teknis sekaligus memperluas ruang diplomasi pertahanan.

Integrasi antara diplomasi ekonomi-politik dan keamanan memperkokoh jaringan strategis Indonesia, menjadikannya mitra keamanan yang diperhitungkan di Indo-Pasifik.

Kesimpulan
Diplomasi pertahanan Indonesia semakin matang, menjadi modal kuat dalam memperluas pengaruh dan menjaga keamanan di tingkat global.


3. Modernisasi Kekuatan dan Operasional TNI

Berita
Pemerintah mengumumkan akuisisi 48 pesawat tempur KAAN asal Turki sebagai bagian modernisasi Angkatan Udara Indonesia. Kontrak senilai US$10 miliar ini mencakup pembangunan fasilitas produksi dan pemeliharaan di dalam negeri, serta transfer teknologi kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Republik Armorindo. Indonesia menjadi pelanggan ekspor pertama untuk jet tempur generasi kelima ini (IP Defense Forum, 15/8/2025).

Paket pengadaan juga mencakup pembelian 12 drone ANKA dan dua fregat Milgem Istif dari Turki. Kerjasama ini tidak hanya meningkatkan kapabilitas tempur, tetapi juga memperkuat industri pertahanan domestik melalui penguasaan teknologi dan infrastruktur pendukung (IP Defense Forum, 15/8/2025).

Analisa
Dalam perspektif Direktorat Pengerahan Komponen Pertahanan (Ditrahkomhan), langkah ini menandai ambisi Indonesia untuk membangun kemandirian industri militer. Transfer teknologi dan pembangunan fasilitas lokal akan memberikan efek jangka panjang bagi kemampuan produksi alutsista di dalam negeri.

Kemandirian ini juga mengurangi ketergantungan pada pemasok luar negeri, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global industri pertahanan.

Kesimpulan
Modernisasi militer melalui pengadaan KAAN dan alutsista lainnya merevolusi kesiapan tempur Indonesia dan memperkuat fondasi industri pertahanan nasional.


4. Penataan Wilayah dan Perbatasan

Berita
Pemerintah melanjutkan percepatan pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di titik strategis seperti Aruk, Motaain, dan Skouw. PLBN dilengkapi fasilitas pemeriksaan modern, klinik, gudang logistik, dan checkpoint berstandar internasional. Program ini berjalan paralel dengan pembahasan RUU Pertahanan Negara di DPR untuk menetapkan zona pertahanan yang adaptif terhadap ancaman di perbatasan (BPIW PUPR, 2025).

Pendampingan dari unsur pertahanan memastikan kebijakan yang dihasilkan mampu mengintegrasikan aspek keamanan, pembangunan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat perbatasan (Kemhan.go.id, Juli 2025).

Analisa
Dalam perspektif Direktorat Wilayah Pertahanan (Ditwilhan), pembangunan PLBN dengan pendekatan multidimensi menggabungkan pertahanan dengan pemberdayaan masyarakat. Strategi ini memperlihatkan bahwa keamanan perbatasan memerlukan sinergi antara militer dan pembangunan sipil.

RUU Pertahanan Negara akan menjadi payung hukum yang memastikan strategi penguatan wilayah dan perbatasan berkesinambungan dan adaptif.

Kesimpulan
Penguatan wilayah perbatasan melalui infrastruktur dan regulasi adaptif memastikan garda terdepan Indonesia tangguh secara militer dan produktif secara ekonomi.


Jumat, 15 Agustus 2025

Ditjen Strahan Kemhan: Menjahit Strategi Pertahanan dari Pidato Kenegaraan Presiden

Infografis: Pidato Presiden

Pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto di Sidang Tahunan MPR RI (15/8) memuat pesan tegas soal kedaulatan, kekuatan nasional, dan pertahanan yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi dan diplomasi. Di balik deretan capaian dan target besar, tersimpan mandat strategis yang langsung menyentuh meja kerja Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Ditjen Strahan) Kementerian Pertahanan.

Presiden menggarisbawahi bahwa “kekuatan suatu negara terletak pada bagaimana negara itu menguasai dan mengelola kekayaannya.” Pesan ini menjadi pegangan bagi Ditjen Strahan untuk memastikan kebijakan pertahanan mampu melindungi kekayaan strategis sekaligus mendukung pembangunan nasional.

Menghidupkan Doktrin Sishankamrata

Dengan rencana pembentukan puluhan satuan baru TNI di darat, laut, dan udara, Ditjen Strahan dituntut memastikan doktrin Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta bukan sekadar jargon. Doktrin ini harus diterjemahkan menjadi sistem pertahanan menyeluruh yang menggerakkan kekuatan militer, sipil, dan sumber daya nasional secara terpadu.

Pertahanan sebagai Penopang Ekonomi

Kedaulatan pangan, energi, dan hilirisasi SDA yang diangkat Presiden menempatkan Ditjen Strahan di posisi strategis untuk mengamankan sentra produksi vital. Perlindungan lahan pangan baru di Kalimantan dan Papua, jalur distribusi energi, hingga fasilitas industri strategis harus masuk dalam skema pertahanan nasional.

Diplomasi Pertahanan di Panggung Global

Bergabungnya Indonesia ke BRICS dan keterlibatan aktif di forum internasional memberi ruang lebar bagi Ditjen Strahan untuk mengarahkan diplomasi pertahanan sebagai instrumen geopolitik. Ini mencakup penguatan kerja sama internasional, transfer teknologi, dan pembukaan akses pasar industri pertahanan Indonesia.

Mengawal Sumber Daya Strategis

Arahan Presiden untuk menertibkan jutaan hektar lahan sawit ilegal dan tambang liar membutuhkan peran Ditjen Strahan dalam merancang kebijakan pertahanan yang menjamin sumber daya strategis tidak jatuh ke tangan pihak asing atau kelompok yang merugikan negara.

Merancang Pertahanan Masa Depan

Dengan penekanan Presiden pada penguasaan teknologi, khususnya artificial intelligence, Ditjen Strahan perlu memimpin perencanaan modernisasi alutsista, pengembangan industri pertahanan nasional, dan pembentukan SDM pertahanan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Kesimpulan:

Pidato Presiden kali ini bukan hanya laporan kerja, melainkan peta jalan untuk masa depan Indonesia. Ditjen Strahan memegang peran vital untuk menerjemahkan visi tersebut ke dalam strategi pertahanan yang realistis dan terukur. Dari penguatan doktrin Sishankamrata, integrasi pertahanan dengan pembangunan, diplomasi global, pengamanan SDA, hingga modernisasi teknologi, semua menjadi bagian dari satu misi: memastikan Indonesia berdaulat, kuat, dan disegani di panggung dunia.


Demikian,

Jakarta, 16 Agustus 2025