![]() |
| Sumber foto google |
Lagu itu bercerita tentang relasi cinta seorang “kakak” dan “adik perempuan” yang dipenuhi pujian, godaan, dan penolakan halus. Meski kisahnya sederhana, makna yang tersirat jauh lebih dalam. Ada ekspresi kejujuran, spontanitas, dan keberanian khas budaya Timur, berpadu dengan kelembutan penolakan bernuansa Minang yang mewakili kearifan budaya Barat Indonesia. Pertemuan dua identitas kultural ini menciptakan harmoni yang menyentuh, membuat semua yang hadir larut dalam irama dan pesan lagu.
Ditinjau dari perspektif Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Ditjen Strahan), momentum ini memperlihatkan bagaimana budaya mampu berperan sebagai instrumen pertahanan nirmiliter. Lagu bukan sekadar hiburan, tetapi media diplomasi internal bangsa—menyatukan perbedaan dalam kegembiraan bersama. Di tengah ancaman global yang semakin kompleks, kesatuan nasional yang dipupuk melalui seni dan budaya adalah benteng pertahanan yang tak kalah penting dari alutsista.
Kekuatan lagu ini tidak hanya pada lirik yang jenaka dan romantis, tetapi juga pada cara ia menghubungkan dua dunia: Papua dan Minangkabau, Timur dan Barat Nusantara. Simbolisme ini sejalan dengan strategi pertahanan Indonesia yang mengedepankan integrasi nasional berbasis kearifan lokal. Dengan budaya sebagai medium, persatuan tidak dipaksakan, melainkan dirasakan secara alami.
Tersirat pula bahwa budaya bisa menjadi arena diplomasi lunak Indonesia ke dunia internasional. Jika di dalam negeri lagu ini mampu menyatukan presiden hingga rakyat biasa dalam satu irama, maka ke luar negeri, Indonesia dapat menggunakan diplomasi budaya untuk menampilkan wajah persaudaraan, harmoni, dan kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global tanpa harus mengerahkan kekuatan militer.
Seperti halnya perayaan 17 Agustus di Istana tahun ini, budaya telah menunjukkan dirinya sebagai senjata strategis nirmiliter. Lagu yang membuat semua orang bergoyang di ruang yang biasanya serius itu adalah pengingat bahwa pertahanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga tentang kemampuan bangsa untuk tetap bersatu, tersenyum, dan merayakan kebersamaan. Dalam bahasa Ditjen Strahan, inilah bentuk nyata dari pertahanan semesta berbasis budaya.
