Cirebon, Sabtu (17/1/2026) — Dalam kunjungan tidak resmi Kolonel Cke Immanuel F. Papare ke Keraton Kasepuhan Cirebon, berlangsung percakapan reflektif dengan Sultan Sepuh XV PRA. Luqman Zulkaedin mengenai tentang pertahanan nasional Indonesia. Dialog ini menegaskan keinginan Kesultanan Cirebon untuk terlibat aktif dalam bela negara dan pertahanan nir-militer yang dikembangkan Kementerian Pertahanan (Kemhan), dengan budaya dan identitas sebagai fondasi utamanya.
Budaya sebagai Jalur Diplomasi Pertahanan. Dalam diskusi hangat tersebut dipahami bersama bahwa diplomasi pertahanan tak selalu harus hadir melalui bahasa kekuatan. Budaya dipandang sebagai medium efektif untuk menyampaikan narasi kebangsaan. Dalam konteks implementasinya Kemhan telah melakukan beberapa kegiatan, diantaranya untuk menjaga kedaulatan Indonesia dengan membangun perspektif diplomasi pertahanan melalui budaya di ruang internasional. Misalnya dengan negara Australia, melalui jejaring masyarakat di sana. Seperti diketahui masyarakat asli Australia memiliki ikatan historis dan kultural dengan wilayah-wilayah Indonesia.
Dalam konteks pertemuan dengan Sultan Cirebon tersebut, Papua hanya dijadikan pembanding untuk menunjukkan bahwa pertahanan negara dapat dilakukan dengan melibatkan kebudayaan. Sebuah pelajaran penting agar pendekatan kebangsaan dan pertahanan oleh seluruh elemen kebangsaan.
Ketahanan Nasional dan Hakikat Bela Negara. Sultan Cirebon menekankan bahwa ketahanan nasional adalah kemampuan bangsa menghadapi ancaman secara menyeluruh. Cinta tanah air ditempatkan sebagai akar pertahanan negara. Rasa memiliki tumbuh ketika identitas dan martabat budaya dihargai. Dari sanalah bela negara memperoleh makna substantif, bukan sekadar kewajiban formal, melainkan kesadaran kolektif yang hidup.
Keraton Cirebon: Sejarah yang Relevan untuk Masa Kini. Sebagai salah satu keraton tertua di Nusantara, Keraton Cirebon memiliki jejak sejarah nyata, termasuk perannya dalam perlawanan terhadap Portugis di Sunda Kelapa. Namun dialog ini menegaskan bahwa peran keraton tidak berhenti pada masa lalu. Keraton dipandang sebagai pusat budaya, pendidikan nilai, dan ketahanan pangan, yang relevan untuk memperkuat fondasi sosial bangsa di tengah tantangan global.
Kesultanan Cirebon dan Kemhan: Arah Kolaborasi. Poin krusial yang mengemuka adalah inisiatif Sultan untuk menjajaki kerja sama dengan Kemhan. Kesultanan Cirebon menyatakan kesiapan menjadi mitra strategis dalam penguatan pertahanan nir-militer. Pengakuan negara atas eksistensi keraton dalam sistem pertahanan dinilai penting, termasuk peluang pengembangan program Komponen Cadangan (Komcad) berbasis keraton—sebuah pendekatan yang menanamkan bela negara melalui tradisi, kearifan lokal, dan pendidikan karakter.
Strategi Pertahanan yang Seimbang. Dalam pandangan yang disampaikan, alutsista tetap diperlukan untuk menciptakan efek gentar dan menjaga kedaulatan, seiring anggaran pertahanan yang besar sebagai konsekuensi geopolitik. Namun ketahanan jangka panjang menuntut keseimbangan antara pertahanan militer dan nir-militer. Budaya, pendidikan, dan penguatan identitas nasional menjadi penopang daya tahan bangsa yang tak tergantikan.
Penutup. Percakapan di Keraton Kasepuhan Cirebon ini mengirimkan pesan jelas: Kesultanan Cirebon siap berkontribusi nyata dalam bela negara dan pertahanan nir-militer. Dengan menjadikan budaya sebagai kekuatan, kolaborasi antara keraton dan negara membuka jalan bagi ketahanan nasional yang inklusif, menumbuhkan cinta tanah air, memperluas makna pertahanan, dan menjaga Indonesia tetap berdaulat serta bermartabat.
Demikian,
Terima kasih

