Selasa, 09 Januari 2024

Tinjauan Rapat FGD Unhan RI-IPSI

Oleh: Videl Mahasiswa Magang



Tema : Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik,Kesiapan Indonesia


Pimpinan : Rektor Unhan RI


Moderator : Dr. Muhammad Hadianto as Founder IPSI


Pembicara: 

  1. Laksda TNI Dr. Ir. Agus Adriyanto, S.T., M.M., CIQnR., CIQaR., IPU., ASEAN Eng

Membahas terkait isu rohingya

  1. Prof. Anak Agung Banyu Perwita, Ph.D Guru Besar HI Unhan RI

Membahas terkait Keamanan Papua dan KKB

  1. Aisha R. Kusumasomantri, M.SC as Executive Manajemen IPSI

Membahas terkait Ketegangan antara AD dan RRT dan juga Teknologi Industri Pertahanan 5.0


Penyelenggara: Panitia Pelaksana Kegiatan Focus Group Discussion Kerjasama anatara Universitas Pertahanan RI dengan Indo Pasific Strategic Intelligence. 


“Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik, Kesiapan Indonesia”

Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik

Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik merujuk pada tantangan dan risiko yang dihadapi oleh kawasan ini, termasuk isu keamanan, ekonomi, dan lingkungan. Tujuan utama mengatasi kerentanan ini adalah mencapai stabilitas, keamanan, dan keberlanjutan di Kawasan Indo Pasifik. Upaya ini bertujuan untuk melindungi kepentingan bersama, mempromosikan perdamaian, dan mewujudkan pembangunan yang inklusif.


Kesiapan Indonesia dalam Diplomasi Pertahanan

Indonesia, sebagai negara kunci di Kawasan Indo-Pasifik, memiliki peran penting dalam diplomasi pertahanan. Kesiapan Indonesia melibatkan berbagai langkah yang dirancang untuk menjaga keamanan wilayah dan berkontribusi pada stabilitas kawasan. Berikut adalah penjelasan lebih rinci:

  1. Diplomasi Kooperatif: Indonesia berkomitmen untuk menjalankan diplomasi yang kooperatif, bekerja sama dengan negara-negara tetangga dan pihak-pihak terkait untuk mengatasi masalah bersama, seperti keamanan maritim dan ketegangan geo-politik.

  2. Negosiasi dan Mediasi: Indonesia dapat berperan sebagai mediator atau fasilitator dalam penyelesaian konflik di kawasan. Melalui negosiasi dan mediasi, Indonesia berusaha mencapai kesepakatan yang adil dan berkelanjutan antara pihak-pihak yang terlibat.

  3. Kolaborasi Multilateral: Melibatkan diri dalam forum dan organisasi multilateral seperti ASEAN, Indonesia berupaya membangun kerjasama regional untuk menghadapi tantangan bersama. Ini mencakup isu keamanan, ekonomi, dan kesejahteraan.

  4. Penguatan Kemampuan Militer: Kesiapan Indonesia juga melibatkan penguatan kemampuan militer untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional. Ini termasuk pengembangan teknologi pertahanan dan pelatihan personel militer.

  5. Penegakan Hukum Maritim: Indonesia berperan aktif dalam penegakan hukum maritim untuk melindungi perairan nasional dan melawan kegiatan ilegal, seperti perompakan dan perdagangan manusia.

  6. Diplomasi Lingkungan: Mengingat kerentanan lingkungan di kawasan, Indonesia dapat menggunakan diplomasi pertahanan untuk mempromosikan kerjasama dalam penanganan perubahan iklim dan perlindungan lingkungan. 


Harapan

Indonesia terkait upaya mengatasi kerentanan Kawasan Indo-Pasifik dan kesiapan dalam diplomasi pertahanan melibatkan aspek-aspek berikut:

  1. Stabilitas dan Keamanan: Indonesia berharap dapat menciptakan lingkungan regional yang stabil dan aman, di mana konflik dapat diatasi secara damai dan keamanan wilayah terjaga.

  2. Kerjasama Regional yang Kuat: Harapan melibatkan pembangunan kerjasama regional yang kuat, terutama dalam konteks ASEAN dan organisasi-organisasi multilateral lainnya. Indonesia ingin menjadi pemimpin kolaborasi untuk meningkatkan stabilitas dan keberlanjutan di kawasan.

  3. Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan: Indonesia berharap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui diplomasi pertahanan, dengan membangun kerjasama ekonomi regional dan menjaga kestabilan perdagangan.

  4. Pengelolaan Sumber Daya Maritim: Harapan Indonesia termasuk pengelolaan sumber daya maritim secara berkelanjutan dan adil, dengan meminimalkan ketegangan terkait klaim wilayah laut dan meningkatkan kerjasama dalam penanggulangan kejahatan maritim.

  5. Perlindungan Lingkungan: Indonesia berharap dapat bersama-sama dengan negara-negara tetangga menjaga lingkungan hidup dan mengatasi dampak perubahan iklim, termasuk melalui inisiatif perlindungan hutan dan sumber daya alam.

  6. Pemantapan Diplomasi Pertahanan: Harapan Indonesia mencakup pemantapan diplomasi pertahanan sebagai alat untuk membangun hubungan baik dengan negara-negara tetangga dan berperan aktif dalam menyelesaikan konflik di kawasan.

  7. Kontribusi pada Perdamaian Global: Indonesia berharap dapat menjadi kontributor positif dalam menciptakan perdamaian global, baik melalui partisipasi dalam operasi perdamaian PBB atau melalui peran diplomatik aktif dalam menyelesaikan konflik internasional.

  8. Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial: Harapan mencakup pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat melalui kebijakan yang mendukung pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan akses layanan kesehatan.

  9. Peningkatan Citra dan Pengaruh Diplomatik: Indonesia berharap upaya diplomasi pertahanan akan meningkatkan citra dan pengaruhnya di tingkat internasional, memperkuat posisi sebagai pemimpin regional yang konstruktif.

Melalui pencapaian harapan-harapan ini, Indonesia berupaya memainkan peran yang proaktif dalam membentuk masa depan Kawasan Indo-Pasifik yang lebih baik, lebih stabil, dan lebih sejahtera.



Pembicara 1 - Isu Rohingya

Penjelasan Isu Rohingya di Indonesia

  1. Penerimaan Pengungsi Rohingya: Pada dasarnya, isu Rohingya di Indonesia berkaitan dengan penerimaan dan penanganan terhadap pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar. Indonesia menjadi salah satu negara yang menerima pengungsi Rohingya, terutama mereka yang tiba melalui perairan sekitar Aceh dan wilayah lainnya.

  2. Pertimbangan Kemanusiaan: Penerimaan pengungsi Rohingya oleh Indonesia sebagian besar didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan. Pemerintah Indonesia dan masyarakatnya merespons situasi krisis kemanusiaan di mana ribuan orang Rohingya mengalami kekerasan dan pemaksaan di negara asalnya. Tindakan ini mencerminkan semangat solidaritas dan tanggung jawab kemanusiaan.

  3. Tantangan Penanganan dan Integrasi: Namun, setelah tiba di Indonesia, pengungsi Rohingya menghadapi tantangan besar terkait penanganan, integrasi, dan keberlanjutan hidup mereka. Mereka membutuhkan bantuan dalam hal makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan. Selain itu, isu hukum dan kebijakan terkait status mereka juga menjadi perhatian penting.

  4. Dorongan Pada Level Internasional: Indonesia sebagai negara anggota komunitas internasional, juga mendukung upaya-upaya internasional untuk menyelesaikan konflik dan mengatasi isu hak asasi manusia di Myanmar. Pemerintah Indonesia turut ambil bagian dalam forum internasional untuk membangun tekanan dan mempromosikan solusi damai.


Tujuan Terkait dengan Isu Rohingya di Indonesia:

  1. Bantuan Kemanusiaan: Tujuan utama Indonesia terkait isu Rohingya adalah memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi. Ini melibatkan penyediaan bantuan seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, dan akses ke layanan kesehatan bagi mereka yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.

  2. Advokasi Keadilan dan Hak Asasi Manusia: Indonesia sebagai negara demokratis dan berdasarkan prinsip-prinsip hak asasi manusia, juga memiliki tujuan untuk mendukung advokasi keadilan dan hak asasi manusia di tingkat internasional. Pemerintah Indonesia bisa berusaha untuk memainkan peran dalam mendorong solusi damai dan mendukung kebijakan yang menghormati hak asasi manusia di Myanmar.

  3. Integrasi dan Pendidikan: Tujuan lainnya adalah memastikan integrasi sosial dan ekonomi yang baik bagi pengungsi Rohingya di Indonesia. Ini melibatkan upaya untuk memberikan pendidikan, pelatihan keterampilan, dan bantuan lainnya agar mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri dan berkontribusi pada masyarakat setempat.

  4. Partisipasi dalam Solusi Internasional: Indonesia juga bisa berperan dalam mendukung upaya internasional untuk menemukan solusi damai di Myanmar. Ini melibatkan partisipasi dalam dialog diplomatik dan mendukung mekanisme internasional yang bertujuan untuk mengakhiri kekerasan dan mempromosikan perdamaian di wilayah tersebut.



Pembicara 2 - Keamanan Papua dan KKB

Dalam konteks Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik dan kesiapan Indonesia, diplomasi pertahanan berkaitan erat dengan keamanan Papua dan aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Berikut penjelasannya:

  1. Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik: Kawasan Indo-Pasifik memiliki peran strategis yang penting dalam politik, ekonomi, dan keamanan global. Keamanan di kawasan ini berkaitan dengan stabilitas negara-negara di sekitarnya, pengelolaan sumber daya alam, dan peran aktor-aktor besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Adanya konflik atau ketidakstabilan di suatu wilayah dapat mempengaruhi keseluruhan kawasan.

  2. Kesiapan Indonesia dalam Diplomasi Pertahanan: Indonesia memiliki peran signifikan dalam menjaga stabilitas Kawasan Indo-Pasifik. Kesiapan Indonesia dalam diplomasi pertahanan mencakup kerjasama regional, peningkatan kemampuan militer, dan partisipasi dalam forum-forum keamanan internasional. Diplomasi pertahanan juga melibatkan upaya untuk membangun hubungan baik dengan negara-negara tetangga dan berperan dalam inisiatif keamanan bersama.

  3. Keamanan Papua dan KKB: Papua, terutama Papua Barat, merupakan bagian dari Indonesia yang mengalami tantangan keamanan dari aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). KKB terlibat dalam tindakan kekerasan, separatisme, dan penggunaan senjata api, yang dapat mengancam stabilitas wilayah dan negara. KKB seringkali terlibat dalam perdagangan ilegal dan eksploitasi sumber daya alam, yang dapat merugikan keamanan dan kesejahteraan masyarakat Papua.

  4. Diplomasi Pertahanan terkait Papua dan KKB: Dalam menghadapi isu keamanan di Papua dan aktivitas KKB, diplomasi pertahanan Indonesia dapat melibatkan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Diplomasi Regional: Indonesia dapat berkoordinasi dengan negara-negara tetangga dan regional untuk meningkatkan pemahaman bersama tentang isu keamanan di Papua dan mengatasi dampak negatifnya terhadap Kawasan Indo-Pasifik.

  • Bantuan Internasional: Pemerintah Indonesia dapat mencari dukungan dan kerjasama internasional dalam upaya penanganan keamanan di Papua. Ini mencakup pertukaran intelijen, pelatihan keamanan, dan dukungan diplomatis.

  • Pengembangan Ekonomi dan Sosial: Diplomasi pertahanan dapat terkait dengan upaya pengembangan ekonomi dan sosial di Papua untuk mengatasi akar permasalahan konflik. Dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua, dapat mengurangi potensi dukungan terhadap aktivitas KKB.

  • Dialog dan Negosiasi: Diplomasi pertahanan juga melibatkan dialog dan negosiasi dengan kelompok-kelompok terlibat, mencari solusi damai, dan mempromosikan inklusivitas dalam proses pembangunan dan pengambilan keputusan.

Melalui pendekatan ini, Indonesia dapat memperkuat diplomasi pertahanan sebagai bagian dari upaya lebih luas dalam menjaga stabilitas Kawasan Indo-Pasifik dan mengatasi tantangan keamanan di dalam negeri, khususnya di Papua.



Pembicara 3 - Ketegangan antara AD dan RRT dan juga Teknologi Industri Pertahanan 5.0


Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik, Kesiapan Indonesia, dan Diplomasi Pertahanan:

  1. Ketegangan antara AD dan RRT: Ketegangan antara Angkatan Darat (AD) Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dapat menciptakan kerentanan di Kawasan Indo-Pasifik. Diplomasi pertahanan Indonesia perlu memainkan peran kunci dalam mengelola dan meredakan ketegangan ini. Pendekatan ini melibatkan:

  • Dialog dan Diplomasi: Indonesia dapat mengambil inisiatif untuk mendorong dialog dan diplomasi yang konstruktif dengan Tiongkok, mempromosikan saling pengertian, dan mencari solusi damai untuk mengurangi ketegangan.

  • Kerjasama Regional: Diplomasi pertahanan dapat melibatkan upaya kerjasama regional untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan keamanan bersama. Ini melibatkan forum-forum regional seperti ASEAN untuk memfasilitasi dialog dan kolaborasi.

  • Kesepakatan dan Protokol Keamanan: Pemerintah Indonesia dapat memperkuat kerangka perjanjian dan protokol keamanan untuk mengelola ketegangan dan mencegah eskalasi konflik.

  1. Teknologi Industri Pertahanan 5.0: Teknologi Industri Pertahanan 5.0 merupakan konsep yang mencakup integrasi teknologi canggih, kecerdasan buatan, internet of things (IoT), dan teknologi digital lainnya dalam sektor pertahanan. Dalam menghadapi kerentanan kawasan, Indonesia dapat menggunakan Teknologi Industri Pertahanan 5.0 untuk memperkuat kesiapannya. Diplomasi pertahanan terkait dapat melibatkan:

  • Kolaborasi Internasional: Indonesia dapat menjalin kerjasama internasional dalam pengembangan dan pertukaran teknologi pertahanan canggih untuk memperkuat kesiapannya.

  • Standar dan Kerangka Hukum: Diplomasi pertahanan juga melibatkan pembahasan dan kesepakatan standar dan kerangka hukum internasional terkait penggunaan teknologi pertahanan canggih untuk memastikan penggunaan yang etis dan terkendali.

  • Peningkatan Kapabilitas Pertahanan: Indonesia dapat menggunakan Teknologi Industri Pertahanan 5.0 untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan nasional, termasuk sistem keamanan siber, pemantauan wilayah udara dan laut, dan kecerdasan buatan untuk mendukung operasi militer yang lebih efektif.

  • Pendidikan dan Pelatihan: Diplomasi pertahanan juga melibatkan kerjasama dalam pendidikan dan pelatihan untuk memastikan personel militer dan sipil memahami dan dapat mengelola teknologi tersebut dengan baik.

Dengan menggabungkan diplomasi pertahanan dalam merespons ketegangan di kawasan dan memanfaatkan Teknologi Industri Pertahanan 5.0, Indonesia dapat memperkuat kesiapannya dalam menghadapi tantangan keamanan di Kawasan Indo-Pasifik. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada respons militer, tetapi juga pada upaya diplomatis dan penggunaan teknologi canggih untuk mencapai stabilitas dan keamanan di kawasan tersebut.



Kesimpulan


Rapat FGD Unhan RI-IPSI membahas tema "Kerentanan Kawasan Indo-Pasifik, Kesiapan Indonesia" dengan fokus pada isu-isu keamanan dan diplomasi pertahanan. Pembicara dari berbagai latar belakang membahas isu-isu seperti kerentanan kawasan Indo-Pasifik, kesiapan Indonesia dalam diplomasi pertahanan, isu Rohingya, keamanan Papua dan KKB, ketegangan antara Angkatan Darat Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok, serta pemanfaatan Teknologi Industri Pertahanan 5.0.

Tujuan utama dari rapat ini adalah mengatasi kerentanan kawasan Indo-Pasifik dengan mencapai stabilitas, keamanan, dan keberlanjutan. Indonesia berkomitmen untuk menjalankan diplomasi kooperatif, negosiasi, dan mediasi, serta memperkuat kemampuan militer untuk menjaga keamanan wilayah. Penegakan hukum maritim dan diplomasi lingkungan juga menjadi fokus, dengan harapan menciptakan lingkungan regional yang stabil, kerjasama regional yang kuat, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Pembicara pertama membahas isu Rohingya, menekankan penerimaan pengungsi sebagai tindakan kemanusiaan, dengan tujuan memberikan bantuan kemanusiaan, advokasi keadilan, integrasi, dan pendidikan bagi pengungsi tersebut. Pembicara kedua fokus pada keamanan Papua dan KKB, menyoroti pentingnya diplomasi pertahanan untuk mengatasi tantangan keamanan di wilayah tersebut. 

Pembicara ketiga membahas ketegangan antara Angkatan Darat Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok, serta pemanfaatan Teknologi Industri Pertahanan 5.0. Diplomasi pertahanan melibatkan dialog, kerjasama regional, dan peningkatan kapabilitas pertahanan melalui teknologi canggih.

Secara keseluruhan, Indonesia berupaya memainkan peran proaktif dalam membentuk masa depan Kawasan Indo-Pasifik yang lebih baik, lebih stabil, dan lebih sejahtera melalui kombinasi diplomasi, kerjasama regional, peningkatan kemampuan militer, dan pemanfaatan teknologi canggih.